Baru-baru ini, halaman media sosial Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menerbitkan foto yang menunjukkan gadis Twitter Aleppo Bana Alabed dan keluarganya dalam sebuah jamuan di istana presiden di Ankara. Sputnik dalam laporannya pada Kamis (23/12) menyebut bahwa karena foto itulah kemudian menjadi terbongkar bahwa ternyata ayah Bana ini terkait dengan teroris.
Pengguna jaringan sosial telah meng-upload foto-foto di mana ayah dari bocah cilik yang mengaku berasal dari Aleppo itu duduk dengan pistol di tangannya, dikelilingi oleh orang-orang bersenjata. Dalam kedua foto wajah pria itu ditunjukkan oleh lingkaran merah.
Pengguna lain memposting beberapa foto di Facebook yang menunjukkan ayah gadis itu bersama-sama dengan teroris. Ada sebuah foto dari Bana sendiri, bersama-sama dengan laki-laki itu, yang juga terlihat di temani beberapa militan.
Salah satu pengguna Facebook juga mengingat dengan jelas bahwa sebelumnya Bana telah menulis di Twitter bahwa ayahnya dibunuh. Namun, sekarang yang terlihat bahwa ayah yang katanya sudah tewas itu terlihat masih hidup dan dalam kesehatan yang baik di Turki.
Ada sebuah foto di mana ayah dari Bana berdiri dengan pistol di tangannya dan di belakangnya, di dinding terdapat bendera Daesh/ISIS.
Bana adalah gadis kecil berusia 7 tahun. Ibunya, Fatemah mengaku seorang guru bahasa Inggris dan pencipta akun Twitter Bana ini pada bulan September, ketika pasukan Bashar al-Assad dengan dukungan Rusia menyerbu bagian timur Aleppo yang dikuasai pemberontak.
Akun Bana ini, �diverifikasi� oleh Twitter dibuat tiga bulan yang lalu, dan sejak itu mengumpulkan lebih dari 310.000 pengikut. Cuitan-cuitan yang ditulis oleh Bana dan ibunya, Fatemah, yang mengatakan ia mengajar putrinya untuk berbicara bahasa Inggris, menggambarkan kehidupan di bawah pengepungan di Aleppo timur.
Banyak yang menyebut bahwa keaslian akun dipertanyakan, menunjuk ke sebuah video di mana ketika Bana berbicara terlihat bahwa ia sebenarnya membaca dari sebuah prompt. Hal ini juga tidak jelas apakah pos Bana adalah asli, karena setiap pengguna, di mana saja di dunia dapat mengirim dari akun itu, selama mereka memiliki password.
Karena liputan media yang sangat luas, Bana menjadi semacam ikon perang Suriah dan bahkan disebut �Anne Frank Aleppo�. - ArrahmahNews
Jumat, 23 Desember 2016
Sekjen Hizbullah: Teroris Takfiri Bukan Islam dan Tak Punya Hubungan Dengan Nabi Muhammad Saw
Sekretaris Jenderal gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon mengatakan militan Takfiri yang telah melakukan kejahatan keji di Timur Tengah dan Afrika Utara, tidak memiliki hubungan dengan Islam dan tokoh agama yang paling dihormati Nabi Muhmamd SAW.
Hassan Nasrallah menyatakan bahwa upaya untuk menodai citra Islam telah memasuki fase baru, dan menekankan bahwa semua Muslim menanggung tanggung jawab untuk mengutuk kekejaman militan Takfiri dan memperkenalkan kepada masyarakat internasional bahwa kejahatan mereka tidak sama sekali terkait dengan Islam.
Dia juga menyatakan bahwa ideologi di balik ekstrimisme berasal dari Wahabisme, dan Wahabi telah menutup mata atas masalah kritis Muslim, khususnya di Palestina.
Nasrallah melanjutkan dengan mengatakan bahwa umat Islam di seluruh dunia harus mengecam kebiadaban ekstrimis Wahabi, dan tidak ada agama atau ideologi yang setuju dengan kebengisan kelompok teroris Takfiri Daesh/ISIS.
Sekjen Hizbullah lebih lanjut mengutuk upaya menghubungkan Daesh atau kelompok teroris lainnya dengan Islam, upaya tersebut sebagai bagian dari skenario hitam terhadap agama ilahi.
�Agama kami dan nabi kita Muhamamd SAW telah disalahgunakan dalam beberapa tahun terakhir. Takfiri adalah mereka yang telah menyalahgunakan agama kita dan Nabi kita, karena mereka melakukan kejahatan atas nama agama ini dan nabi Muhammad SAW, kekejaman Takfiri adalah pembantaian nyata kepada kemanusiaan dan budaya,� kata Nasrallah.
Nasrallah juga mengecam keras video yang dirilis ISIS baru-baru ini, yang dimaksudkan untuk menunjukkan dua tentara Turki dibakar hidup-hidup di kota barat laut Suriah, Aleppo, yang menyatakan bahwa Turki membayar harga atas dukungan mereka kepada teroris ISIS.
Dia juga mengkritik pemerintah Turki tidak menggunakan standar ganda dalam perang melawan terorisme, dan menyerukan para pejabat Turki untuk mengadopsi sikap yang jelas mengenai ISIS.
Beralih ke pembebasan Aleppo dan pengembalian kota strategis pada kontrol penuh pemerintah, Nasrallah menyatakan pembebasan Aleppo sebagai salah satu prestasi terbesar dalam pertempuran melawan teroris Takfiri.
�Dukungan yang ditawarkan oleh negara-negara Arab kepada militan di Suriah selama enam tahun terakhir melampaui tingkat bantuan yang diberikan kepada warga Palestina selama 60 tahun,� kata Sekjen Hizbullah.
Ia juga mengatakan kekalahan militan di Suriah adalah hasil dari pengorbanan bangsa Suriah, tentara serta pejuang.
Nasrallah juga mengkritik Barat dan beberapa outlet media Arab yang membuat cerita bohong di Aleppo, mengatakan jaringan media Arab dan Barat menyesatkan opini publik dunia dengan menampilkan gambar-gambar palsu setelah operasi militer Suriah di Aleppo.
�Outlet Media menunjukkan gambar anak-anak Yaman, kemudian mengklaimnya sebagai gambar anak-anak Suriah,� katanya.
Dia menggambarkan pembebasan Aleppo sebagai kemenangan besar dan kemajuan utama pada tingkat politik dan militer, serta mengatakan bahwa Amerika Serikat berusaha memblokir solusi politik di Suriah.
�Masa depan Suriah harus diputuskan oleh Suriah sendiri,� ujar Nasrallah.
Nasrallah juga menyambut pembentukan pemerintahan baru di Libanon, yang menyatakan bahwa pemerintahan baru harus mengatasi semua masalah di negara itu, dan bukan hanya cukup untuk tugas yang tercantum dalam undang-undang pemilihan.
Dia sangat menolak tuduhan bahwa Hizbullah berusaha untuk menguasai semua lembaga di Lebanon, dan menekankan bahwa gerakan perlawanan hanya ingin memastikan bahwa pemerintah Lebanon yang baru merupakan orang-orang dari semua lapisan masyarakat. (ARN)
Hassan Nasrallah menyatakan bahwa upaya untuk menodai citra Islam telah memasuki fase baru, dan menekankan bahwa semua Muslim menanggung tanggung jawab untuk mengutuk kekejaman militan Takfiri dan memperkenalkan kepada masyarakat internasional bahwa kejahatan mereka tidak sama sekali terkait dengan Islam.
Dia juga menyatakan bahwa ideologi di balik ekstrimisme berasal dari Wahabisme, dan Wahabi telah menutup mata atas masalah kritis Muslim, khususnya di Palestina.
Nasrallah melanjutkan dengan mengatakan bahwa umat Islam di seluruh dunia harus mengecam kebiadaban ekstrimis Wahabi, dan tidak ada agama atau ideologi yang setuju dengan kebengisan kelompok teroris Takfiri Daesh/ISIS.
Sekjen Hizbullah lebih lanjut mengutuk upaya menghubungkan Daesh atau kelompok teroris lainnya dengan Islam, upaya tersebut sebagai bagian dari skenario hitam terhadap agama ilahi.
�Agama kami dan nabi kita Muhamamd SAW telah disalahgunakan dalam beberapa tahun terakhir. Takfiri adalah mereka yang telah menyalahgunakan agama kita dan Nabi kita, karena mereka melakukan kejahatan atas nama agama ini dan nabi Muhammad SAW, kekejaman Takfiri adalah pembantaian nyata kepada kemanusiaan dan budaya,� kata Nasrallah.
Nasrallah juga mengecam keras video yang dirilis ISIS baru-baru ini, yang dimaksudkan untuk menunjukkan dua tentara Turki dibakar hidup-hidup di kota barat laut Suriah, Aleppo, yang menyatakan bahwa Turki membayar harga atas dukungan mereka kepada teroris ISIS.
Dia juga mengkritik pemerintah Turki tidak menggunakan standar ganda dalam perang melawan terorisme, dan menyerukan para pejabat Turki untuk mengadopsi sikap yang jelas mengenai ISIS.
Beralih ke pembebasan Aleppo dan pengembalian kota strategis pada kontrol penuh pemerintah, Nasrallah menyatakan pembebasan Aleppo sebagai salah satu prestasi terbesar dalam pertempuran melawan teroris Takfiri.
�Dukungan yang ditawarkan oleh negara-negara Arab kepada militan di Suriah selama enam tahun terakhir melampaui tingkat bantuan yang diberikan kepada warga Palestina selama 60 tahun,� kata Sekjen Hizbullah.
Ia juga mengatakan kekalahan militan di Suriah adalah hasil dari pengorbanan bangsa Suriah, tentara serta pejuang.
Nasrallah juga mengkritik Barat dan beberapa outlet media Arab yang membuat cerita bohong di Aleppo, mengatakan jaringan media Arab dan Barat menyesatkan opini publik dunia dengan menampilkan gambar-gambar palsu setelah operasi militer Suriah di Aleppo.
�Outlet Media menunjukkan gambar anak-anak Yaman, kemudian mengklaimnya sebagai gambar anak-anak Suriah,� katanya.
Dia menggambarkan pembebasan Aleppo sebagai kemenangan besar dan kemajuan utama pada tingkat politik dan militer, serta mengatakan bahwa Amerika Serikat berusaha memblokir solusi politik di Suriah.
�Masa depan Suriah harus diputuskan oleh Suriah sendiri,� ujar Nasrallah.
Nasrallah juga menyambut pembentukan pemerintahan baru di Libanon, yang menyatakan bahwa pemerintahan baru harus mengatasi semua masalah di negara itu, dan bukan hanya cukup untuk tugas yang tercantum dalam undang-undang pemilihan.
Dia sangat menolak tuduhan bahwa Hizbullah berusaha untuk menguasai semua lembaga di Lebanon, dan menekankan bahwa gerakan perlawanan hanya ingin memastikan bahwa pemerintah Lebanon yang baru merupakan orang-orang dari semua lapisan masyarakat. (ARN)
Presiden Gambia Tolak Mundur, Negara Afrika Barat Siaga 1
Blok regional Afrika Barat, ECOWAS menyatakan pasukan negara-negara Afrika barat saat ini dalam kondisi siaga satu. Pasukan ini sewaktu-waktu bisa dikirim ke Gambia, untuk memaksa presiden negara itu, Yahya Jammeh tetap menolak untuk mundur.
"ECOWAS telah menempatkan pasukan dalam posisi siaga dalam kasus Presiden Gambia Yahya Jammeh, jika dia tetap menolak mundur ketika mandatnya berakhir pada 19 Januari mendatang," kata Presiden ECOWAS, Marcel de Souza dalam sebuah pernyataan.
"Para pemimpin di kawasan telah menawarkan Jammeh cara yang terhormat untuk mundur, tetapi jika dia tidak mengambilnya maka pasukan bisa dikerahkan," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Jumat (23/12).
ECOWAS sendiri sebelumnya memang telah meminta secara baik-baik kepada Jammeh, agar dia mundur dari posisinya saat ini dengan damai. Namun, Jammeh justru menolak dan mengecam upaya tersebut.
"Saya bukan pengecut. Hak saya tidak bisa diintimidasi dan dilanggar. Ini adalah posisi saya. Tidak ada yang bisa menghalangi saya dari kemenangan kecuali Allah SWT. Pertemuan ECOWAS adalah formalitas. Sebelum mereka datang, mereka sudah mengatakan Jammeh harus mundur. Saya tidak akan mundur," ucap Jammeh beberapa waktu lalu.
Desakan untuk mundur ini datang setelah Jammeh menolak hasil pemilu di Gambia, dimana dia kalah oleh Adama Barrow. Jammeh pada awalnya sejatinya menerima hasil pemilu yang dilihat sebagai momen penuh harapan itu.
Namun, tidak lama berselang, ia merubah keputusannya dan mengatakan ia akan menantang hasil pemilihan ke Mahkamah Agung. Jammeh mengatakan bahwa pemilu pada 1 Desember lalu penuh dengan kecurangan.
"ECOWAS telah menempatkan pasukan dalam posisi siaga dalam kasus Presiden Gambia Yahya Jammeh, jika dia tetap menolak mundur ketika mandatnya berakhir pada 19 Januari mendatang," kata Presiden ECOWAS, Marcel de Souza dalam sebuah pernyataan.
"Para pemimpin di kawasan telah menawarkan Jammeh cara yang terhormat untuk mundur, tetapi jika dia tidak mengambilnya maka pasukan bisa dikerahkan," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Jumat (23/12).
ECOWAS sendiri sebelumnya memang telah meminta secara baik-baik kepada Jammeh, agar dia mundur dari posisinya saat ini dengan damai. Namun, Jammeh justru menolak dan mengecam upaya tersebut.
"Saya bukan pengecut. Hak saya tidak bisa diintimidasi dan dilanggar. Ini adalah posisi saya. Tidak ada yang bisa menghalangi saya dari kemenangan kecuali Allah SWT. Pertemuan ECOWAS adalah formalitas. Sebelum mereka datang, mereka sudah mengatakan Jammeh harus mundur. Saya tidak akan mundur," ucap Jammeh beberapa waktu lalu.
Desakan untuk mundur ini datang setelah Jammeh menolak hasil pemilu di Gambia, dimana dia kalah oleh Adama Barrow. Jammeh pada awalnya sejatinya menerima hasil pemilu yang dilihat sebagai momen penuh harapan itu.
Namun, tidak lama berselang, ia merubah keputusannya dan mengatakan ia akan menantang hasil pemilihan ke Mahkamah Agung. Jammeh mengatakan bahwa pemilu pada 1 Desember lalu penuh dengan kecurangan.
Tentara Suriah Kuasai Seluruh Allepo
Komandan Angkatan Darat Suriah mengatakan tentara pemerintah telah kembali mengontrol penuh seluruh Aleppo. Dalam sebuah pernyataan, ia juga mengatakan telah mengembalikan keamanan dan stabilitas kota.
"Kota ini telah dibebaskan dari terorisme dan teroris," bunyi pernyataan itu seperti dikutip Russia Today dari kantor berita Suriah, SANA, Jumat (23/12/2016).
Pernyataan itu juga mengatakan Aleppo saat ini akan menandai titik balik dalam perang melawan terorisme. "Penyerangan ini pukulan yang menghancurkan kekuatan yang didukung sebuah rencana terorisme terhadap Suriah," tambah pernyataan itu.
Sementara itu, Palang Merah Internasional (ICRC) telah mengkonfirmasi bahwa operasi kompleks untuk mengevakuasi warga dan pemberontak yang ingin meninggalkan Aleppo telah selesai.
"Semua warga sipil yang ingin dievakuasi telah dipindahkan, termasuk mereka yang terluka dan pemberontak," kata juru bicara Komite Internasional Palang Merah, Krista Armstrong.
Pertempuran untuk Aleppo berlangsung selama hampir setengah tahun setelah Tentara Suriah pertama mengepung gerilyawan dan pemberontak berlindung di kota, pada akhir Juli lalu. Selama operasi untuk membebaskan Aleppo, lebih dari 78.000 warga sipil berhasil melarikan diri distrik timur ke daerah-daerah yang dikuasai pemerintah dengan bantuan dari Pusat untuk RekonsiliasiRusia. - Sindo
Kamis, 22 Desember 2016
Rusia: Kami Tewaskan 35 Ribu Pemberontak
Serangan udara Rusia di Suriah telah menewaskan 35 ribu pemberontak dan berhasil menghentikan rantai revolusi di Timur Tengah. Begitu pernyataan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu.
Ia mengungkapkan bahwa pesawat Rusia telah melakukan 18 ribu terbang sorti di Suriah sejak awal operasi, menghancurkan 725 kamp pelatihan dan 405 situs pembuat senjata.
"Rantai warna revolusi yang menyebar di Timur Tengah dan Afrika telah rusak," kata Shoigu seperti dikutip dari Reuters, Kamis (22/12/2016).
Shoigu juga mengatakan bahwa intervensi Moskow telah mencegah runtuhnya negara Suriah. Intervensi Rusia di Suriah secara luas dilihat untuk menyelamatkan pasukan Presiden Bashar al-Assad dari kekalahan. Intervensi itu juga untuk merebut kembali kontrol penuh mereka Aleppo.
Shoigu juga mengatakan pasukan rudal nuklir Rusia akan tahun depan akan membengkak oleh tiga unit tambahan dipersenjatai dengan persenjataan modern dan bahwa angkatan udara akan menerima lima pesawat pembom strategis modern.
"Kami sekarang lebih kuat daripada calon penyerang," kata Presiden Vladimir Putin di acara yang sama di Kementerian Pertahanan di Moskow.
Tapi Putin mengeluarkan peringatan terkait tumbuhnya kekuatan militer Rusia itu. "Jika tidak ingin hal itu berubah lebih baik kita tidak kehingalan fokus," katanya. - Sindo
Ia mengungkapkan bahwa pesawat Rusia telah melakukan 18 ribu terbang sorti di Suriah sejak awal operasi, menghancurkan 725 kamp pelatihan dan 405 situs pembuat senjata.
"Rantai warna revolusi yang menyebar di Timur Tengah dan Afrika telah rusak," kata Shoigu seperti dikutip dari Reuters, Kamis (22/12/2016).
Shoigu juga mengatakan bahwa intervensi Moskow telah mencegah runtuhnya negara Suriah. Intervensi Rusia di Suriah secara luas dilihat untuk menyelamatkan pasukan Presiden Bashar al-Assad dari kekalahan. Intervensi itu juga untuk merebut kembali kontrol penuh mereka Aleppo.
Shoigu juga mengatakan pasukan rudal nuklir Rusia akan tahun depan akan membengkak oleh tiga unit tambahan dipersenjatai dengan persenjataan modern dan bahwa angkatan udara akan menerima lima pesawat pembom strategis modern.
"Kami sekarang lebih kuat daripada calon penyerang," kata Presiden Vladimir Putin di acara yang sama di Kementerian Pertahanan di Moskow.
Tapi Putin mengeluarkan peringatan terkait tumbuhnya kekuatan militer Rusia itu. "Jika tidak ingin hal itu berubah lebih baik kita tidak kehingalan fokus," katanya. - Sindo
Rusia Coba 162 Senjata Canggih Baru dalam Perang Suriah
Rusia mengakui sudah menguji 162 senjata canggih baru dalam operasi militer atau perang di Suriah. Pengakuan ini disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Rusia Sergey Shoigu dalam pertemuan para pejabat senior Kremlin yang dipimpin Presiden Vladmir Putin, Kamis petang.
Shoigu mengatakan tujuan utama dari operasi militer Rusia di Suriah adalah untuk mencegah disintegrasi negara tersebut. Namun, operasi militer itu dia akui juga menjadi kesempatan untuk menguji ratusan senjata canggih Moskow.
�Selama operasi di Suriah, 162 senjata canggih dan upgrade telah diuji dalam pertempuran. Mereka telah terbukti sangat efisien,� ucap Shoigu.
Menhan Rusia ini mencontohkan beberapa senjata dan alat tempur Kremlin yang diuji dalam pertempuran di Suriah. Di antaranya, pesawat jet tempur Su-30SM dan jet tempur Su-34. Kemudian, helikopter Mi-28N dan Ka-52, rudal jelajah Kalibr, serta senjata-senjata canggih lain.
Menurut Shoigu, 10 dari 162 senjata yang diuji mengungkapkan kelemahan yang belum diidentifikasi pada rentang tes. Hal itu mendorong kementeriannya untuk berhenti membelinya dan meminta para pengembang untuk memperbaikinya.
�Keterlibatan Rusia telah mencegah disintegrasi negara Suriah, merusak rantai 'revolusi warna' di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan meluncurkan proses untuk mencapai penyelesaian politik dan rekonsiliasi antara pihak yang bertikai,� klaim Shoigu.
Shoigu lebih lanjut mengatakan, sejauh ini, 18.800 sorti dan 71.000 serangan udara telah dilakukan oleh Angkatan Udara Rusia sebagai bagian dari operasi militer di Suriah. Pesawat-pesawat tempur Rusia telah menghantam ratusan kamp pelatihan, kendaraan militer, dan sistem artileri dari kelompok militan.
Tahun ini juga, ujar Shoigu, anggota-anggota NATO telah meningkatkan pengawasannya terhadap aset militer Rusia. �Intensitas pengawasan angkatan laut di dekat perairan teritorial kami telah meningkat sebesar 50 persen. Kami sedang memantau situasi dan mencegah setiap upaya untuk melanggar perbatasan laut kami,� katanya.
Menurutnya, jumlah penerbangan pesawat-pesawat NATO telah tiga kali lipat selama satu dekade terakhir, sehingga diperlukan peningkatan penyebaran jet-jet tempur Rusia untuk membayangi pesawat NATO.
NATO juga telah melakukan latihan militer dua kali lebih banyak.�Sebagian besar menargetkan Rusia,� ujarnya, seperti dikutip Russia Today, semalam (22/12/2016). Sebagai contoh, dia menunjukkan latihan perang militer Inggris yang menggunakan tank tua Soviet dan kontraktor sipil yang mengenakan seragam Rusia.
Shoigu mengatakan tujuan utama dari operasi militer Rusia di Suriah adalah untuk mencegah disintegrasi negara tersebut. Namun, operasi militer itu dia akui juga menjadi kesempatan untuk menguji ratusan senjata canggih Moskow.
�Selama operasi di Suriah, 162 senjata canggih dan upgrade telah diuji dalam pertempuran. Mereka telah terbukti sangat efisien,� ucap Shoigu.
Menhan Rusia ini mencontohkan beberapa senjata dan alat tempur Kremlin yang diuji dalam pertempuran di Suriah. Di antaranya, pesawat jet tempur Su-30SM dan jet tempur Su-34. Kemudian, helikopter Mi-28N dan Ka-52, rudal jelajah Kalibr, serta senjata-senjata canggih lain.
Menurut Shoigu, 10 dari 162 senjata yang diuji mengungkapkan kelemahan yang belum diidentifikasi pada rentang tes. Hal itu mendorong kementeriannya untuk berhenti membelinya dan meminta para pengembang untuk memperbaikinya.
�Keterlibatan Rusia telah mencegah disintegrasi negara Suriah, merusak rantai 'revolusi warna' di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan meluncurkan proses untuk mencapai penyelesaian politik dan rekonsiliasi antara pihak yang bertikai,� klaim Shoigu.
Shoigu lebih lanjut mengatakan, sejauh ini, 18.800 sorti dan 71.000 serangan udara telah dilakukan oleh Angkatan Udara Rusia sebagai bagian dari operasi militer di Suriah. Pesawat-pesawat tempur Rusia telah menghantam ratusan kamp pelatihan, kendaraan militer, dan sistem artileri dari kelompok militan.
Tahun ini juga, ujar Shoigu, anggota-anggota NATO telah meningkatkan pengawasannya terhadap aset militer Rusia. �Intensitas pengawasan angkatan laut di dekat perairan teritorial kami telah meningkat sebesar 50 persen. Kami sedang memantau situasi dan mencegah setiap upaya untuk melanggar perbatasan laut kami,� katanya.
Menurutnya, jumlah penerbangan pesawat-pesawat NATO telah tiga kali lipat selama satu dekade terakhir, sehingga diperlukan peningkatan penyebaran jet-jet tempur Rusia untuk membayangi pesawat NATO.
NATO juga telah melakukan latihan militer dua kali lebih banyak.�Sebagian besar menargetkan Rusia,� ujarnya, seperti dikutip Russia Today, semalam (22/12/2016). Sebagai contoh, dia menunjukkan latihan perang militer Inggris yang menggunakan tank tua Soviet dan kontraktor sipil yang mengenakan seragam Rusia.
Selasa, 20 Desember 2016
Agen Koalisi Zionis yang Tertangkap di Aleppo Lebih dari 100
Jumlah agen zionis internasional yang tertangkap di kota Aleppo membengkak menjadi lebih dari 100 orang. Dari jumlah itu 22 orang berasal dari Amerika dan 7 orang dari Israel.
"Kami telah mendapat konfirmasi dari sumber-sumber terpercaya kami di Suriah. Jumlahnya jauh lebih banyak dari 14 nama seperti dikeluarkan oleh seorang anggota parlemen Suriah melalui Facebook," tulis Veterans Today dalam laporannya hari ini (19 Desember).
Menurut Veterans Today, ke-14 nama yang dilaporkan tersebut berasal dari kelompok lain yang tertangkap. Adapun jumlah agen yang tertangkap dan negara asalnya adalah sbb: Amerika (22 orang), Inggris (16 orang), Perancis (21 orang), Israel (7 orang) dan Turki (62 orang).
Menurut Veterans Today, media massa internasional sengaja bungkam atas kabar yang cukup heboh ini. Namun juga disayangkan bahwa pemerintah dan media massa Suriah juga bungkam soal ini. Diperkirakan, pemerintah Suriah dan Rusia tidak ingin memperpanjang masalah dengan negara-negara pendukung pemberontak dan kini menfokuskan diri pada penyelesaian politik konflik Suriah.
"Rusia bertekad untuk membawa semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk melanjutkan perundingan, sehingga mereka tidak ingin penangkapan para perwira asing ini mengacaukan segalanya. Kita akan melihat bagaimana hasilnya di meja perundingan. Setelah itu kita akan melihat apakah rudal-rudal TOW dan MANPAD muncul di medan perang saat para teroris melancarkan serangan baru," tambah Veterans Today
14 perwira koalisi Amerika yang menjadi penasihat kelompok-kelompok pemberontak-teroris Suriah tertangkap di Aleppo hari JUmat pekan lalu (15 Desember). Demikian SouthFront melaporkan Sabtu (17 Desember).
"Dewan Keamanan PBB bertemu tidak resmi hari Jumat (16 Desember), sementara sejumlah perwira NATO tertangkap olah militer Suriah di Aleppo Timur pagi ini," tulis Fares Shehabi di akun Facebook miliknya sebagaimana dikutip SouthFront.
Fares juga merilis nama-nama dan asal negara ke-14 orang itu, yaitu:
Mutaz Kanoglu � Turki
David Scott Winer � AS
David Shlomo Aram � Israel
Muhamad Tamimi � Qatar
Muhamad Ahmad Assabian � Saudi
Abd-el-Menham Fahd al Harij � Saudi
Islam Salam Ezzahran Al Hajlan � Saudi
Ahmed Ben Naoufel Al Darij � Saudi
Muhamad Hassan Al Sabihi � Saudi
Hamad Fahad Al Dousri � Saudi
Amjad Qassem Al Tiraoui � Jordan
Qassem Saad Al Shamry � Saudi
Ayman Qassem Al Thahalbi � Saudi
Mohamed Ech-Chafihi El Idrissi � Morokko
JUrnalis Suriah Said Hilal Alcharifi juga melaporkan hal yang sama di akun Facebook-nya, namun dengan rincian yang lebih luas:
"Otoritas Suriah telah menemukan markas para perwira senior negara-negara barat di sebuah lantai dasar di Distrik Aleppo dan menangkap mereka hidup-hidup. Beberapa nama telah dibocorkan kepada wartawan Suriah, termasuk saya. Negara-negara asal para bajingan yang terlihat adalah AS, Perancis, Inggris, Jerman, Israel, Turki, Saudi, Marokko, Qatar, dan lain-lain. Saya pastikan, Suriah kini memiliki harta sangat berharga untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara yang telah menghancurkannya," tulis Alcharifi.
Sebelumnya di bulan Desember, SouthFront telah melaporkan adanya upaya-upaya diplomatik Amerika untuk mencapai penyelesaian diplomatik di Aleppo demi menyelamatkan sejumlah perwiranya yang terperangkap di Aleppo.
SouthFront juga melaporkan bahwa para penasihat militer Inggris telah diterjunkan ke Suriah untuk menata kembali para pemberontak yang lari dari Aleppo. Hal ini dikatakan langsung oleh Menhan Inggris Michael Fallon yang mengatakan sebanyak 20 pasukan khusus Inggris telah tiba di Suriah untuk melatih para pemberontak melawan ISIS.
"Kami telah mendapat konfirmasi dari sumber-sumber terpercaya kami di Suriah. Jumlahnya jauh lebih banyak dari 14 nama seperti dikeluarkan oleh seorang anggota parlemen Suriah melalui Facebook," tulis Veterans Today dalam laporannya hari ini (19 Desember).
Menurut Veterans Today, ke-14 nama yang dilaporkan tersebut berasal dari kelompok lain yang tertangkap. Adapun jumlah agen yang tertangkap dan negara asalnya adalah sbb: Amerika (22 orang), Inggris (16 orang), Perancis (21 orang), Israel (7 orang) dan Turki (62 orang).
Menurut Veterans Today, media massa internasional sengaja bungkam atas kabar yang cukup heboh ini. Namun juga disayangkan bahwa pemerintah dan media massa Suriah juga bungkam soal ini. Diperkirakan, pemerintah Suriah dan Rusia tidak ingin memperpanjang masalah dengan negara-negara pendukung pemberontak dan kini menfokuskan diri pada penyelesaian politik konflik Suriah.
"Rusia bertekad untuk membawa semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk melanjutkan perundingan, sehingga mereka tidak ingin penangkapan para perwira asing ini mengacaukan segalanya. Kita akan melihat bagaimana hasilnya di meja perundingan. Setelah itu kita akan melihat apakah rudal-rudal TOW dan MANPAD muncul di medan perang saat para teroris melancarkan serangan baru," tambah Veterans Today
14 perwira koalisi Amerika yang menjadi penasihat kelompok-kelompok pemberontak-teroris Suriah tertangkap di Aleppo hari JUmat pekan lalu (15 Desember). Demikian SouthFront melaporkan Sabtu (17 Desember).
"Dewan Keamanan PBB bertemu tidak resmi hari Jumat (16 Desember), sementara sejumlah perwira NATO tertangkap olah militer Suriah di Aleppo Timur pagi ini," tulis Fares Shehabi di akun Facebook miliknya sebagaimana dikutip SouthFront.
Fares juga merilis nama-nama dan asal negara ke-14 orang itu, yaitu:
Mutaz Kanoglu � Turki
David Scott Winer � AS
David Shlomo Aram � Israel
Muhamad Tamimi � Qatar
Muhamad Ahmad Assabian � Saudi
Abd-el-Menham Fahd al Harij � Saudi
Islam Salam Ezzahran Al Hajlan � Saudi
Ahmed Ben Naoufel Al Darij � Saudi
Muhamad Hassan Al Sabihi � Saudi
Hamad Fahad Al Dousri � Saudi
Amjad Qassem Al Tiraoui � Jordan
Qassem Saad Al Shamry � Saudi
Ayman Qassem Al Thahalbi � Saudi
Mohamed Ech-Chafihi El Idrissi � Morokko
JUrnalis Suriah Said Hilal Alcharifi juga melaporkan hal yang sama di akun Facebook-nya, namun dengan rincian yang lebih luas:
"Otoritas Suriah telah menemukan markas para perwira senior negara-negara barat di sebuah lantai dasar di Distrik Aleppo dan menangkap mereka hidup-hidup. Beberapa nama telah dibocorkan kepada wartawan Suriah, termasuk saya. Negara-negara asal para bajingan yang terlihat adalah AS, Perancis, Inggris, Jerman, Israel, Turki, Saudi, Marokko, Qatar, dan lain-lain. Saya pastikan, Suriah kini memiliki harta sangat berharga untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara yang telah menghancurkannya," tulis Alcharifi.
Sebelumnya di bulan Desember, SouthFront telah melaporkan adanya upaya-upaya diplomatik Amerika untuk mencapai penyelesaian diplomatik di Aleppo demi menyelamatkan sejumlah perwiranya yang terperangkap di Aleppo.
SouthFront juga melaporkan bahwa para penasihat militer Inggris telah diterjunkan ke Suriah untuk menata kembali para pemberontak yang lari dari Aleppo. Hal ini dikatakan langsung oleh Menhan Inggris Michael Fallon yang mengatakan sebanyak 20 pasukan khusus Inggris telah tiba di Suriah untuk melatih para pemberontak melawan ISIS.
Kesaksian Prajurit Suriah Saat Palmyra Jatuh ke Tangan ISIS
Pembebasan Aleppo dan Mosul dari para pemberontak-teroris ISIS menjadi pukulan sangat menyakitkan bagi koalisi zionis Amerika-Saudi-Turki. Bertahun-tahun upaya keras mereka, dengan sumber daya yang tidak terhingga, untuk menyingkirkan Bashar al Assad dan memarginalkan Iran dari Irak, sia-sia sudah.
Semuanya terjadi setelah Rusia, sejak September 2015 lalu, menerjunkan diri membantu Bashar al Assad. Maka, sebelum semuanya itu terjadi, Rusia harus 'ditampar'. Dan tidak ada tamparan yang lebih keras bagi Rusia daripada merebut Palmyra.
Sebagai kota kuno peninggalan kebudayaan awal Kristen, Rusia, yang mayoritas warganya adalah penganut Kristen Orthodok sebagaimana warga Palmyra, menjadikannya sebagai simbol keberadaan Rusia di Suriah bahkan Timur Tengah. Tidak berlebihan, Rusia mengerahkan pasukannya besar-besaran untuk membantu Suriah merebut kota ini pertengahan tahun ini. Dan setelah berhasil menguasai kota ini, Rusia pun menggelar konser musik klasik di kota ini. Kemudian, untuk menjamin kota ini tidak lagi jatuh ke tangan pemberontak, detasemen khusus militer Rusia pun ditempatkan di kota ini.
Untuk merebut Palmyra, koalisi zionis internasional pun mengerahkan ribuan anggota kelompok pemberontak dan teroris ISIS yang melarikan diri dari Mosul Irak, Idlib hingga Raqqa Suriah. Mereka dilengkapi dengan segala senjata yang bisa diberikan koalisi zionis, mulai dari rudal anti-tank TOW, rudal anti-pesawat MANPAD, artileri, dan tank. Namun, senjata mereka yang paling mematikan adalah bom bunuh diri yang dipasang di kendaraan lapis baja, yang melaju menembus garis perbatasan lawan.
Berikut ini adalah penuturan Omar Dirmam, seorang prajurit Suriah tentang kejatuhan kota Palmyra ke tangan ISIS bulan ini, yang dituliskan kembali oleh Jim W. Dean di Veterans Today, 14 Desember, dengan judul 'Loss of Palmyra � a soldiers diary'.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kejatuhan Palmyra. Selain senjata canggih dan determinasi tinggi para anggota ISIS, sebagian dipengaruhi oleh doktrin jihad yang mereka terima dari para mentor mereka hingga rela menjadi pelaku bom bunuh diri, atau karena pengaruh obat-obatan dan cuci otak sebagain bagian dari program operasi CIA, juga karena moral pasukan koalisi Suriah sendiri yang lemah.
Sebagaimana penuturan prajurit tersebut, pasukan elit Suriah Tiger Force, yang berada di Palmyra telah lima bulan tidak menerima gaji. Kondisi lebih buruk tentu dialami oleh pasukan 'biasa' dan para anggota milisi Suriah. Ini tentu menurunkan moral mereka untuk bertempur membela negara.
Selain itu, milisi-milisi asing, terutama milisi Shiah dari Irak dan Afghanistan, tentu juga tidak begitu bersemangat untuk mempertaruhkan nyawa membela kota Kristen yang bukan tanah airnya. Mereka mungkin akan bertempur sampai mati menjaga makam Sayidah Zainab di Damaskus, namun tidak untuk Palmyra.
Timeline penguasaan kota Palmyra oleh Isis
Sabtu, 10 Desember 2016, Palmyra, 8 pagi.
Peringatan bahaya serangan ISIS oleh Rusia berdasarkan foto satelit mereka, berulangkali disampaikan. Pesawat-pesawat pembom menyerang beberapa ladang minyak di sekitar kota dan
tidak cukup waktu untuk melakukan persiapan.
Pangkalan militer as-Savamiyah dan sekitarnya, 10 pagi.
Pangkalan ini berada 15 km sebelah timur Palmyra di antara Jalan Raya as-Suhna. Pasukan pertahanan di sini mencakup Military Security Shield Forces, pasukan khusus al-Badia dengan unit-unit berbeda, as-Saima, Zanubiya, Heart of Syria, dan unit-unit ash-Sheikh Suleiman. Secara keseluruhan 1.800 prajurit. Kemudian pasukan Divisi ke-11 dan Divisi ke-18 yang dilengkapi dengan 6 meriam artileri 130-mm, 6 meriam artileri 122-mm, 7 peluncur roket Grad dan 12 tank.
Kemudian legion al-Faminiyun (milisi Shiah Afghanistan yang dilatih dan dikirim oleh Iran) berjumlah 1.200 militan dan sejumlah besar peralatan militer. Terakhir adalah 150 personil Tiger Forces untuk mempertahankan bagian terlemah di wilayah tenggara.
Secara keseluruhan semuanya adalah kekuatan militer yang cukup besar. Maka, ketika 'serangan' ISIS dimulai dengan dua kendaraan taktis dan satu tank yang melaju cepat di jalan raya As-Suha dan telah diketahui 7 km dari pangkalan oleh pos pengamatan di Bukit at-Tar, reaksi yang dilakukan berjalan lamban.
Mulanya, pesawat-pesawat pembom berhasil menghancurkan dua kendaraan taktis, namun tank tersebut, yang kemudian diketahui mengangkut 10 ton bahan peledak, tetap melaju kencang ke arah as-Savamiyah. Tanpa diketahui penyebabnya, senjata-senjata anti-tank Konkurs yang dimiliki pasukan Divisi ke-18 tidak bereaksi. Pada jarak hanya 200 meter dari pengkalan, tank tersebut baru bisa dihentikan dengan senjata anti-tank.
Namun terlambat. Dampak ledakan begitu hebat sehingga menimbulkan kerusakan hingga radius 400 meter. Kepanikan langsung menghinggapi pasukan yang berada di pangkalan. Satu demi satu mereka meninggalkan posisinya. Dimulai oleh legion al-Faminiyun, diikuti oleh pasukan Divisi ke-18 dan Shield Force. Lebih menyedihkan lagi, mereka tidak mundur terorganisir ke Palmyra untuk membuat pertahanan baru, melainkan pergi begitu saja.
Pasukan Divisi ke-11 juga mundur. Namun mereka melakukannya secara terorganisir dan bergerak ke Palmyra dengan membentuk pertahanan baru.
Dengan mundurnya pasukan-pasukan itu, yang tersisa adalah pasukan Tiger Force yang menjaga wilayah tenggara dan dan personil angkatan udara yang menjaga pangkalan udara di tempat itu. Semuanya hanya sekitar 100 personil
Area Bukit at-Tar, 11 pagi.
Bukit ini berada di tenggara Palmyra. Dari atas bukit ini wilayah Palmyra, as-Savamiyah dengan jalan raya As-Suha terlihat jelas sehingga memungkinkan dilakukannya kontrol atas wilayah Palmyra timur. Untuk merebut Palmyra, selain merebut as-Savamiyah, menguasai bukit ini adalah syarat lainnya.
Untuk menghindari serangan udara, ISIS biasanya memulai serangan dengan bom-bom mobil sebagaimana serangan ke as-Savamiyah, dilanjutkan dengan serangan pasukan infantri pejalan kaki.
Di bawah bukit terdapat 2 pos pasukan Divisi ke-18 yang terpisah. Kemudian di atas bukit terdapat 500 pasukan Tiger Force yang menjaga. Pada saat pasukan meninggalkan as-Savamiyah, kepanikan pun melanda pasukan ini hingga sekitar separoh di antaranya melakukan desersi, dengan dalih belum menerima gaji selama 5 bulan.
Perlu digaris bawahi bahwa dalam kondisi normal, satu 'divisi' pasukan biasanya berjumlah sekitar 20 sampai 30 ribu pasukan. Namun di Suriah, ketika puluhan ribu pasukan tentara nasionalnya (Syrian Arab Army) kehilangan nyawa selama konflik, jumlah pasukan dalam satu divisi hanya beberapa ribu orang saja.
Serangan ke Bukit at-Tar dimulai dengan penembakan artileri dan mortar oleh ISIS. Kemudian empat truk pick-up bersenapan mesin serta dua tank bergerak cepat ke arah bukit. Sementara di antara pasukan penjaga bukit, tidak ada senjata anti-tank yang cukup efektif. Dua tank pasukan Divisi-18 di bawah bukit dengan cepat dihancurkan dengan senjata anti-tank ISIS.
Maka pasukan infantri Divisi ke-18 harus bertempur habis-habisan untuk mencegah tank-tank dan truk pick-up itu mencapai puncak bukit. Pertempuran menjaga bukit at-Tar pun berlangsung sengit hingga jam 17.00 dengan korban berjatuhan di kedua pihak. Serangan bom mobil dan infantri ISIS berhasil digagalkan, namun karena ISIS terus menyerang, pasukan Divisi ke-18 akhirnya menarik diri ke arah pangkalan udara.
Pada pertempuran jarak dekat ini serangan udara menjadi tidak efektif, sehingga pesawat-pesawat udara Rusia dan Suriah hanya bisa menyerang garis belakang musuh.
Palmyra, 17.00 sore.
Pasukan Rusia di Palmyra meledakkan gudang amunisinya sebelum pergi untuk mencegahnya jatuh ke tangan ISIS. Langit di atas Palmyra berubah menjadi pesta kembang api namun menakutkan semua warga. Tidak lama kemudian evakuasi pun dilakukan di seluruh kota.
Palmyra, 18.00 sore
Kota telah sepi setelah ditinggalkan warganya. Sebagian pasukan yang menjaga kota juga telah pergi meninggalkan sejumlah kecil pasukan penjaga dan polisi. Komandan pasukan al-Badia yang bertugas menjaga keamanan kota, Mayjend Shaulat Hawali, terus bergerak bersama mobil komandonya, Cadillac berlapis baja. Namun itu hanyalah pengalihan belaka, karena ternyata 2.500 personil Al Badia dan Shield Forces yang seharusnya menjaga Palmyra, telah meninggalkan kota ini. Mayjend Hawali hanya ditemani oleh 10 perwira dan satu truk pick-up pasukannya.
Di luar itu hanya ada sejumlah pasukan Divisi ke-11 dan Tiger Forces yang masih berada di Palmyra, namun kondisi mereka berserak tanpa komando yang kuat. Pasukan Tiger Force mengambil alih kepemimpinan dan melaporkan situasi terkini. Komandan tertinggi pasukan tersebut, Mayjend Suheil, hanya bisa menjanjikan bantuan 'secepat mungkin' dan memerintahkan pasukan untuk tidak pergi.
Palmyra, 24.00 malam.
Sampai tengah malam bantuan yang dijanjikan tidak juga datang. Namun pasukan penjaga merasa cukup senang ketika 100 anggota legion al-Faminiyun dan 70 anggota pasukan Divisi ke-18 datang.Pasukan yang tinggal, terutama dari Divisi ke-11 dan Tiger Force, membangun garis pertahanan di sebelah timur kota. Dua tank dan 40 prajurit menjaga Jalan Raya as-Suhna yang membentang dari timur ke dalam kota.
Minggu 11 Desember 2016, Palmyra, 01.00 dinihari.
Sebuah bom mobil yang dikemudikan anggota ISIS menghantam pertahanan pasukan Divisi ke-11 di Jalan Raya as-Suhna, menghancurkan dua tank yang ditempatkan di sana. Beberapa prajurit tewas, namun tidak ada yang melarikan diri. Sekitar 60 prajurit Tiger Forces datang untuk memberikan bantuan dan memblokir akses ke pemukiman Al-Ameria dan perbukitan Al-Ameria yang telah kosong ditinggalkan warga. Kawasan Pergudangan 410 di Jalan Raya Raqqa tidak ada yang menjaga karena kurangnya personil.
Palmyra, 03.00 dinihari.
Komandan Tiger Force Mayjend Suhail kembali menghubungi dan memberikan semangat pada anak buanya untuk bertahan sembari menunggu bantuan yang tidak bisa dipastikan kedatangannya.
Kecemasan melanda seluruh pasukan pada kawasan Pergudangan 410 yang kosong tanpa penjagaan. Namun tidak ada yang dilakukan karena kurangnya personil.
Palmyra, 09.00 pagi.
Serangan ISIS berlangsung simultan ke dua posisi, Bukit at-Tar dan al-Ameria di Timur Laut Palmyra. Pada malam sebelumnya sekelompok teroris telah menyusup kawasan al Amerika. Tiba-tiba mereka menyerang dari wilayah itu, dibantu kemudian oleh serangan dari kawasan Pergudangan 410.
Dengan dikuasainya perbukitan Al-Ameria memungkinkan para teroris menembaki seluruh wilayah kota Palmyra. Para prajurit di jalanan menjadi sasaran empuk mereka.
Jabal at-Tar, 09 pagi.
Bersamaan dengan serangan di al-Amerika empat tank dan tiga truk pick-up ISIS menyerbu bukit at-Tar. Dilanda kelaparan dan kedinginan, para prajurit Tiger Force mempertahankan bukit itu mati-matian. Namun bukit ini baru jatuh setelah ISIS hampir kehabisan pasukannya.
Palmyra, 11.00.
Dengan jatuhnya perbukitan Al Amerika dan at-Tar, Palmyra menjadi sasaran empuk ISIS. Mereka menembaki pasukan Suriah di jalanan sesukanya. Pasukan yang tinggal terpaksa meninggalkan kota dan bergerak ke selatan untuk bertahan di Benteng al-Bayarat.
Palmyra, 13.00
Penarikan pasukan berjalan dramatis. Sekitar 200 prajurit Tiger Force menjadi pelindung pasukan yang mundur dengan mengandalkan 2 tank dan sejumlah senapan mesin.
Namun ISIS telah menguasai jalan ke arah Al Bayarat sehingga para prajurit pun merasa putus asa. Dalam situasi genting, enam helikopter Mi-28 muncul untuk memberikan perlindungan, tiga helikopter menembaki ISIS di kiri jalan dan tiga lainnya di kanan jalan. Akhirnya pasukan pun berhasil mencapai Al Barayat. Namun, Palmyra tidak bisa lagi dipertahankan.
Semuanya terjadi setelah Rusia, sejak September 2015 lalu, menerjunkan diri membantu Bashar al Assad. Maka, sebelum semuanya itu terjadi, Rusia harus 'ditampar'. Dan tidak ada tamparan yang lebih keras bagi Rusia daripada merebut Palmyra.
Sebagai kota kuno peninggalan kebudayaan awal Kristen, Rusia, yang mayoritas warganya adalah penganut Kristen Orthodok sebagaimana warga Palmyra, menjadikannya sebagai simbol keberadaan Rusia di Suriah bahkan Timur Tengah. Tidak berlebihan, Rusia mengerahkan pasukannya besar-besaran untuk membantu Suriah merebut kota ini pertengahan tahun ini. Dan setelah berhasil menguasai kota ini, Rusia pun menggelar konser musik klasik di kota ini. Kemudian, untuk menjamin kota ini tidak lagi jatuh ke tangan pemberontak, detasemen khusus militer Rusia pun ditempatkan di kota ini.
Untuk merebut Palmyra, koalisi zionis internasional pun mengerahkan ribuan anggota kelompok pemberontak dan teroris ISIS yang melarikan diri dari Mosul Irak, Idlib hingga Raqqa Suriah. Mereka dilengkapi dengan segala senjata yang bisa diberikan koalisi zionis, mulai dari rudal anti-tank TOW, rudal anti-pesawat MANPAD, artileri, dan tank. Namun, senjata mereka yang paling mematikan adalah bom bunuh diri yang dipasang di kendaraan lapis baja, yang melaju menembus garis perbatasan lawan.
Berikut ini adalah penuturan Omar Dirmam, seorang prajurit Suriah tentang kejatuhan kota Palmyra ke tangan ISIS bulan ini, yang dituliskan kembali oleh Jim W. Dean di Veterans Today, 14 Desember, dengan judul 'Loss of Palmyra � a soldiers diary'.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kejatuhan Palmyra. Selain senjata canggih dan determinasi tinggi para anggota ISIS, sebagian dipengaruhi oleh doktrin jihad yang mereka terima dari para mentor mereka hingga rela menjadi pelaku bom bunuh diri, atau karena pengaruh obat-obatan dan cuci otak sebagain bagian dari program operasi CIA, juga karena moral pasukan koalisi Suriah sendiri yang lemah.
Sebagaimana penuturan prajurit tersebut, pasukan elit Suriah Tiger Force, yang berada di Palmyra telah lima bulan tidak menerima gaji. Kondisi lebih buruk tentu dialami oleh pasukan 'biasa' dan para anggota milisi Suriah. Ini tentu menurunkan moral mereka untuk bertempur membela negara.
Selain itu, milisi-milisi asing, terutama milisi Shiah dari Irak dan Afghanistan, tentu juga tidak begitu bersemangat untuk mempertaruhkan nyawa membela kota Kristen yang bukan tanah airnya. Mereka mungkin akan bertempur sampai mati menjaga makam Sayidah Zainab di Damaskus, namun tidak untuk Palmyra.
Timeline penguasaan kota Palmyra oleh Isis
Sabtu, 10 Desember 2016, Palmyra, 8 pagi.
Peringatan bahaya serangan ISIS oleh Rusia berdasarkan foto satelit mereka, berulangkali disampaikan. Pesawat-pesawat pembom menyerang beberapa ladang minyak di sekitar kota dan
tidak cukup waktu untuk melakukan persiapan.
Pangkalan militer as-Savamiyah dan sekitarnya, 10 pagi.
Pangkalan ini berada 15 km sebelah timur Palmyra di antara Jalan Raya as-Suhna. Pasukan pertahanan di sini mencakup Military Security Shield Forces, pasukan khusus al-Badia dengan unit-unit berbeda, as-Saima, Zanubiya, Heart of Syria, dan unit-unit ash-Sheikh Suleiman. Secara keseluruhan 1.800 prajurit. Kemudian pasukan Divisi ke-11 dan Divisi ke-18 yang dilengkapi dengan 6 meriam artileri 130-mm, 6 meriam artileri 122-mm, 7 peluncur roket Grad dan 12 tank.
Kemudian legion al-Faminiyun (milisi Shiah Afghanistan yang dilatih dan dikirim oleh Iran) berjumlah 1.200 militan dan sejumlah besar peralatan militer. Terakhir adalah 150 personil Tiger Forces untuk mempertahankan bagian terlemah di wilayah tenggara.
Secara keseluruhan semuanya adalah kekuatan militer yang cukup besar. Maka, ketika 'serangan' ISIS dimulai dengan dua kendaraan taktis dan satu tank yang melaju cepat di jalan raya As-Suha dan telah diketahui 7 km dari pangkalan oleh pos pengamatan di Bukit at-Tar, reaksi yang dilakukan berjalan lamban.
Mulanya, pesawat-pesawat pembom berhasil menghancurkan dua kendaraan taktis, namun tank tersebut, yang kemudian diketahui mengangkut 10 ton bahan peledak, tetap melaju kencang ke arah as-Savamiyah. Tanpa diketahui penyebabnya, senjata-senjata anti-tank Konkurs yang dimiliki pasukan Divisi ke-18 tidak bereaksi. Pada jarak hanya 200 meter dari pengkalan, tank tersebut baru bisa dihentikan dengan senjata anti-tank.
Namun terlambat. Dampak ledakan begitu hebat sehingga menimbulkan kerusakan hingga radius 400 meter. Kepanikan langsung menghinggapi pasukan yang berada di pangkalan. Satu demi satu mereka meninggalkan posisinya. Dimulai oleh legion al-Faminiyun, diikuti oleh pasukan Divisi ke-18 dan Shield Force. Lebih menyedihkan lagi, mereka tidak mundur terorganisir ke Palmyra untuk membuat pertahanan baru, melainkan pergi begitu saja.
Pasukan Divisi ke-11 juga mundur. Namun mereka melakukannya secara terorganisir dan bergerak ke Palmyra dengan membentuk pertahanan baru.
Dengan mundurnya pasukan-pasukan itu, yang tersisa adalah pasukan Tiger Force yang menjaga wilayah tenggara dan dan personil angkatan udara yang menjaga pangkalan udara di tempat itu. Semuanya hanya sekitar 100 personil
Area Bukit at-Tar, 11 pagi.
Bukit ini berada di tenggara Palmyra. Dari atas bukit ini wilayah Palmyra, as-Savamiyah dengan jalan raya As-Suha terlihat jelas sehingga memungkinkan dilakukannya kontrol atas wilayah Palmyra timur. Untuk merebut Palmyra, selain merebut as-Savamiyah, menguasai bukit ini adalah syarat lainnya.
Untuk menghindari serangan udara, ISIS biasanya memulai serangan dengan bom-bom mobil sebagaimana serangan ke as-Savamiyah, dilanjutkan dengan serangan pasukan infantri pejalan kaki.
Di bawah bukit terdapat 2 pos pasukan Divisi ke-18 yang terpisah. Kemudian di atas bukit terdapat 500 pasukan Tiger Force yang menjaga. Pada saat pasukan meninggalkan as-Savamiyah, kepanikan pun melanda pasukan ini hingga sekitar separoh di antaranya melakukan desersi, dengan dalih belum menerima gaji selama 5 bulan.
Perlu digaris bawahi bahwa dalam kondisi normal, satu 'divisi' pasukan biasanya berjumlah sekitar 20 sampai 30 ribu pasukan. Namun di Suriah, ketika puluhan ribu pasukan tentara nasionalnya (Syrian Arab Army) kehilangan nyawa selama konflik, jumlah pasukan dalam satu divisi hanya beberapa ribu orang saja.
Serangan ke Bukit at-Tar dimulai dengan penembakan artileri dan mortar oleh ISIS. Kemudian empat truk pick-up bersenapan mesin serta dua tank bergerak cepat ke arah bukit. Sementara di antara pasukan penjaga bukit, tidak ada senjata anti-tank yang cukup efektif. Dua tank pasukan Divisi-18 di bawah bukit dengan cepat dihancurkan dengan senjata anti-tank ISIS.
Maka pasukan infantri Divisi ke-18 harus bertempur habis-habisan untuk mencegah tank-tank dan truk pick-up itu mencapai puncak bukit. Pertempuran menjaga bukit at-Tar pun berlangsung sengit hingga jam 17.00 dengan korban berjatuhan di kedua pihak. Serangan bom mobil dan infantri ISIS berhasil digagalkan, namun karena ISIS terus menyerang, pasukan Divisi ke-18 akhirnya menarik diri ke arah pangkalan udara.
Pada pertempuran jarak dekat ini serangan udara menjadi tidak efektif, sehingga pesawat-pesawat udara Rusia dan Suriah hanya bisa menyerang garis belakang musuh.
Palmyra, 17.00 sore.
Pasukan Rusia di Palmyra meledakkan gudang amunisinya sebelum pergi untuk mencegahnya jatuh ke tangan ISIS. Langit di atas Palmyra berubah menjadi pesta kembang api namun menakutkan semua warga. Tidak lama kemudian evakuasi pun dilakukan di seluruh kota.
Palmyra, 18.00 sore
Kota telah sepi setelah ditinggalkan warganya. Sebagian pasukan yang menjaga kota juga telah pergi meninggalkan sejumlah kecil pasukan penjaga dan polisi. Komandan pasukan al-Badia yang bertugas menjaga keamanan kota, Mayjend Shaulat Hawali, terus bergerak bersama mobil komandonya, Cadillac berlapis baja. Namun itu hanyalah pengalihan belaka, karena ternyata 2.500 personil Al Badia dan Shield Forces yang seharusnya menjaga Palmyra, telah meninggalkan kota ini. Mayjend Hawali hanya ditemani oleh 10 perwira dan satu truk pick-up pasukannya.
Di luar itu hanya ada sejumlah pasukan Divisi ke-11 dan Tiger Forces yang masih berada di Palmyra, namun kondisi mereka berserak tanpa komando yang kuat. Pasukan Tiger Force mengambil alih kepemimpinan dan melaporkan situasi terkini. Komandan tertinggi pasukan tersebut, Mayjend Suheil, hanya bisa menjanjikan bantuan 'secepat mungkin' dan memerintahkan pasukan untuk tidak pergi.
Palmyra, 24.00 malam.
Sampai tengah malam bantuan yang dijanjikan tidak juga datang. Namun pasukan penjaga merasa cukup senang ketika 100 anggota legion al-Faminiyun dan 70 anggota pasukan Divisi ke-18 datang.Pasukan yang tinggal, terutama dari Divisi ke-11 dan Tiger Force, membangun garis pertahanan di sebelah timur kota. Dua tank dan 40 prajurit menjaga Jalan Raya as-Suhna yang membentang dari timur ke dalam kota.
Minggu 11 Desember 2016, Palmyra, 01.00 dinihari.
Sebuah bom mobil yang dikemudikan anggota ISIS menghantam pertahanan pasukan Divisi ke-11 di Jalan Raya as-Suhna, menghancurkan dua tank yang ditempatkan di sana. Beberapa prajurit tewas, namun tidak ada yang melarikan diri. Sekitar 60 prajurit Tiger Forces datang untuk memberikan bantuan dan memblokir akses ke pemukiman Al-Ameria dan perbukitan Al-Ameria yang telah kosong ditinggalkan warga. Kawasan Pergudangan 410 di Jalan Raya Raqqa tidak ada yang menjaga karena kurangnya personil.
Palmyra, 03.00 dinihari.
Komandan Tiger Force Mayjend Suhail kembali menghubungi dan memberikan semangat pada anak buanya untuk bertahan sembari menunggu bantuan yang tidak bisa dipastikan kedatangannya.
Kecemasan melanda seluruh pasukan pada kawasan Pergudangan 410 yang kosong tanpa penjagaan. Namun tidak ada yang dilakukan karena kurangnya personil.
Palmyra, 09.00 pagi.
Serangan ISIS berlangsung simultan ke dua posisi, Bukit at-Tar dan al-Ameria di Timur Laut Palmyra. Pada malam sebelumnya sekelompok teroris telah menyusup kawasan al Amerika. Tiba-tiba mereka menyerang dari wilayah itu, dibantu kemudian oleh serangan dari kawasan Pergudangan 410.
Dengan dikuasainya perbukitan Al-Ameria memungkinkan para teroris menembaki seluruh wilayah kota Palmyra. Para prajurit di jalanan menjadi sasaran empuk mereka.
Jabal at-Tar, 09 pagi.
Bersamaan dengan serangan di al-Amerika empat tank dan tiga truk pick-up ISIS menyerbu bukit at-Tar. Dilanda kelaparan dan kedinginan, para prajurit Tiger Force mempertahankan bukit itu mati-matian. Namun bukit ini baru jatuh setelah ISIS hampir kehabisan pasukannya.
Palmyra, 11.00.
Dengan jatuhnya perbukitan Al Amerika dan at-Tar, Palmyra menjadi sasaran empuk ISIS. Mereka menembaki pasukan Suriah di jalanan sesukanya. Pasukan yang tinggal terpaksa meninggalkan kota dan bergerak ke selatan untuk bertahan di Benteng al-Bayarat.
Palmyra, 13.00
Penarikan pasukan berjalan dramatis. Sekitar 200 prajurit Tiger Force menjadi pelindung pasukan yang mundur dengan mengandalkan 2 tank dan sejumlah senapan mesin.
Namun ISIS telah menguasai jalan ke arah Al Bayarat sehingga para prajurit pun merasa putus asa. Dalam situasi genting, enam helikopter Mi-28 muncul untuk memberikan perlindungan, tiga helikopter menembaki ISIS di kiri jalan dan tiga lainnya di kanan jalan. Akhirnya pasukan pun berhasil mencapai Al Barayat. Namun, Palmyra tidak bisa lagi dipertahankan.
Senin, 19 Desember 2016
Iran Tutup Seluruh Konsulatnya di Turki
Setelah terjadi penembakan yang menewaskan Duta Besar Rusia di Turki, pemerintah Iran memutuskan untuk menutup seluruh konsulatnya di Turki.
Kedutaan Besar Iran di Ankara menyampaikan pernyataan tersebut. "Seluruh kantor konsulat Iran di Istanbul, Trazon, dan Erzurum akan tutup pada Selasa, 20 Desember 2016. Kami mendesak seluruh warga Iran untuk tidak mengunjungi lokasi tersebut," demikian pernyataan resmi Kedubes Iran yang diunggah pada laman resmi mereka dan diberitakan oleh Sputnik, 20 Desember 2016.
Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov, tewas ditembak saat sedang membuka pameran di sebuah galeri seni di Ankara. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, penembakan tersebut adalah aksi terorisme.
Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum Menteri Luar Negeri Turki, Rusia, dan Iran menggelar pertemuan di Moskow untuk membicarakan penyelesaian konflik di Suriah. Menteri Luar Negeri Turki sudah tiba di Moskow dan memutuskan untuk lebih mementingkan pertemuan dibanding serangan tersebut.
Ia menekankan insiden tersebut tak akan memberi dampak pada hubungan antara Turki dan Rusia. Belum ada penjelasan sampai kapan penutupan konsulat Iran itu akan diberlakukan. - Viva
Kedutaan Besar Iran di Ankara menyampaikan pernyataan tersebut. "Seluruh kantor konsulat Iran di Istanbul, Trazon, dan Erzurum akan tutup pada Selasa, 20 Desember 2016. Kami mendesak seluruh warga Iran untuk tidak mengunjungi lokasi tersebut," demikian pernyataan resmi Kedubes Iran yang diunggah pada laman resmi mereka dan diberitakan oleh Sputnik, 20 Desember 2016.
Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov, tewas ditembak saat sedang membuka pameran di sebuah galeri seni di Ankara. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, penembakan tersebut adalah aksi terorisme.
Baca : Polisi Turki Tembak Mati Dubes Rusia untuk Turki
Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum Menteri Luar Negeri Turki, Rusia, dan Iran menggelar pertemuan di Moskow untuk membicarakan penyelesaian konflik di Suriah. Menteri Luar Negeri Turki sudah tiba di Moskow dan memutuskan untuk lebih mementingkan pertemuan dibanding serangan tersebut.
Ia menekankan insiden tersebut tak akan memberi dampak pada hubungan antara Turki dan Rusia. Belum ada penjelasan sampai kapan penutupan konsulat Iran itu akan diberlakukan. - Viva
Dubes Korut untuk Indonesia : Asia Timur Laut 'Sumbu Api' Perang Dunia
Asia Timur Laut merupakan wilayah yang secara geopolitik merupakan kawasan rumit karena 'diduduki' oleh negara-negara adikuasa. Sebut saja Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan. Maka tak heran, Asia Timur Laut dijadikan sebagai 'sumbu api' (hotspot) yang berujung perang terbuka di kemudian hari.
"Dari segi pemusatan kekuatan militer dan kaya akan potensi ekonomi, Asia Timur Laut bisa menjadi sumbu api perang dan mengancam kemakmuran dunia. Semenanjung Korea adalah bukti dari percikan-percikan api itu," kata Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia, An Kwan-il, di Jakarta, Senin, 19 Desember 2016.
Melihat adanya potensi konflik ini, ia melanjutkan, Korea Utara menganggap perlu ditingkatkannya pencegahan perang untuk menjaga perdamaian. Pengembangan kekuatan senjata nuklir Pyongyang menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk menahan aksi "membabi-buta" AS yang ingin menguasai Asia Pasifik.
Dalam pelaksanaan strategi kebijakannya, Kwan-il menilai bahwa alat paling utama yang digunakan AS adalah mengonfrontasi hubungan Utara dan Selatan. Ia pun menilai 'saudara kandungnya itu' tidak punya sikap dan keberanian untuk berhadapan langsung dengan negaranya.
"Pemerintah Korea Selatan selama ini tak punya kemampuan dan keberanian untuk berhadapan langsung dengan kami. Mereka hanya menggantungkan diri pada kekuatan asing (AS)," tutur Kwan-il.
Kondisi ini yang kemudian menyebabkan Korea Selatan terus memasukkan lebih banyak perlengkapan perang buatan AS seperti sistem rudal THAAD, di samping latihan perang bersama.
"Jika mereka (Korsel) terus-menerus seperti ini, bukan tidak mungkin, penambahan kekuatan militer AS di Semenanjung Korea akan menambah bahaya keamanan dan kestabilan, utamanya Asia Timur Laut," tutur Kwan-il.
"Dari segi pemusatan kekuatan militer dan kaya akan potensi ekonomi, Asia Timur Laut bisa menjadi sumbu api perang dan mengancam kemakmuran dunia. Semenanjung Korea adalah bukti dari percikan-percikan api itu," kata Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia, An Kwan-il, di Jakarta, Senin, 19 Desember 2016.
Melihat adanya potensi konflik ini, ia melanjutkan, Korea Utara menganggap perlu ditingkatkannya pencegahan perang untuk menjaga perdamaian. Pengembangan kekuatan senjata nuklir Pyongyang menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk menahan aksi "membabi-buta" AS yang ingin menguasai Asia Pasifik.
Dalam pelaksanaan strategi kebijakannya, Kwan-il menilai bahwa alat paling utama yang digunakan AS adalah mengonfrontasi hubungan Utara dan Selatan. Ia pun menilai 'saudara kandungnya itu' tidak punya sikap dan keberanian untuk berhadapan langsung dengan negaranya.
"Pemerintah Korea Selatan selama ini tak punya kemampuan dan keberanian untuk berhadapan langsung dengan kami. Mereka hanya menggantungkan diri pada kekuatan asing (AS)," tutur Kwan-il.
Kondisi ini yang kemudian menyebabkan Korea Selatan terus memasukkan lebih banyak perlengkapan perang buatan AS seperti sistem rudal THAAD, di samping latihan perang bersama.
"Jika mereka (Korsel) terus-menerus seperti ini, bukan tidak mungkin, penambahan kekuatan militer AS di Semenanjung Korea akan menambah bahaya keamanan dan kestabilan, utamanya Asia Timur Laut," tutur Kwan-il.
Polisi Turki Tembak Mati Dubes Rusia untuk Turki
Aksi penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Kepolisian Turki terhadap Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov, kemungkinan besar berhubungan dengan krisis di Suriah. Pasalnya, usai melakukan aksi penembakan itu, pelaku meneriakkan kata-kata �Aleppo�, �Revenge�, dan �Allahu Akbar�.
Hingga kini, Pemerintah Turki belum merilis identitas pelaku penembakan tersebut. Pelaku sendiri tewas ditembak aparat keamanan setelah melakukan aksinya di Cagdas Sanatlar Merkezi, ruang pameran seni utama di distrik Cankaya, Ankara, Senin (19/12) malam waktu setempat. Distrik Cankaya adalah lokasi sejumlah keduataan besar negara asing di Ankara.
Foto yang diterbitkan oleh harian Hurriyet menunjukkan, setidaknya dua pria yang mengenakan jas nampak terbaring di lantai. Sementara pelaku berdiri sambil mengacungkan pistol dan meneriakkan sejumlah kata-kata.
"Insiden itu terjadi pada saat pembukaan pameran," kata koresponden Hurriyet, Hasim Kilic, yang berada di tempat kejadian. "Ketika Duta Besar menyampaikan pidato, seorang pria jangkung yang mengenakan setelan jas melepaskan tembakan pertama ke udara dan kemudian membidik Duta Besar," kata Kilic.
"Dia mengatakan sesuatu tentang Aleppo dan 'balas dendam'. Dia memerintahkan warga sipil untuk meninggalkan ruangan. Ketika orang-orang melarikan diri, dia menembak lagi," tambahnya.
�Pria itu berteriak "Allahu Akbar" dan kemudian berbicara tentang berjanji setia kepada jihad dalam bahasa Arab. Ia juga mengatakan, jangan lupa tentang Suriah, jangan lupa tentang Aleppo. Semua orang yang berpartisipasi dalam tirani ini akan bertanggung jawab," lanjutnya.
Walikota Ankara, Melih Gokcek mengidentifikasi penyerang sebagai polisi Turki. Harian Yeni Safak mengatakan di situsnya, bahwa pelaku berinisial MMA dan bertugas sebagai polisi anti huru-hara di Ankara. - Sindo
Hingga kini, Pemerintah Turki belum merilis identitas pelaku penembakan tersebut. Pelaku sendiri tewas ditembak aparat keamanan setelah melakukan aksinya di Cagdas Sanatlar Merkezi, ruang pameran seni utama di distrik Cankaya, Ankara, Senin (19/12) malam waktu setempat. Distrik Cankaya adalah lokasi sejumlah keduataan besar negara asing di Ankara.
Foto yang diterbitkan oleh harian Hurriyet menunjukkan, setidaknya dua pria yang mengenakan jas nampak terbaring di lantai. Sementara pelaku berdiri sambil mengacungkan pistol dan meneriakkan sejumlah kata-kata.
"Insiden itu terjadi pada saat pembukaan pameran," kata koresponden Hurriyet, Hasim Kilic, yang berada di tempat kejadian. "Ketika Duta Besar menyampaikan pidato, seorang pria jangkung yang mengenakan setelan jas melepaskan tembakan pertama ke udara dan kemudian membidik Duta Besar," kata Kilic.
"Dia mengatakan sesuatu tentang Aleppo dan 'balas dendam'. Dia memerintahkan warga sipil untuk meninggalkan ruangan. Ketika orang-orang melarikan diri, dia menembak lagi," tambahnya.
�Pria itu berteriak "Allahu Akbar" dan kemudian berbicara tentang berjanji setia kepada jihad dalam bahasa Arab. Ia juga mengatakan, jangan lupa tentang Suriah, jangan lupa tentang Aleppo. Semua orang yang berpartisipasi dalam tirani ini akan bertanggung jawab," lanjutnya.
Walikota Ankara, Melih Gokcek mengidentifikasi penyerang sebagai polisi Turki. Harian Yeni Safak mengatakan di situsnya, bahwa pelaku berinisial MMA dan bertugas sebagai polisi anti huru-hara di Ankara. - Sindo
Senin, 12 Desember 2016
Dominasi Yahudi Atas Dunia
Dominasi yahudi atas dunia, khususnya Amerika, banyak difahami orang hanya dari sisi atau sektor �formal�, seperti birokrasi, media massa, perbankan-keuangan, industri militer terkait birokrasi (military complex), NGO/LSM. Namun, jauh lebih dalam dari itu semua, dominasi yahudi juga muncul dari sektor �informal� seperti sektor hiburan dan kriminalitas.
Jika Anda seorang anggota interpol yang berwawasan tinggi, maka Anda akan menemukan bahwa jaringan internasional pengedar narkoba, prostitusi, human/organ trafficking, senjata illegal, pedhopilia, judi dan hiburan, pornografi dan pornoaksi, dipenuhi oleh orang-orang yahudi dan beberapa kelompok etnis lainnya bekerja sebagai kaki-tangannya.
Sebagai gambaran, selama masa kejayaan mafioso Amerika yang didorong oleh UU larangan minuman keras (Prohibition Act tahun 1919 sampai 1933), muncul kelompok mafia yahudi yang mendominasi peredaran gelap minuman keras di Amerika dengan dukungan mafia Italia sebagai kaki-tangannya. Mereka dipimpin oleh Meyer Lansky dan Bugsy Siegel yang dibantu oleh mafia Italia Lucky Luciano dan Al Capone. Mitra terbesar mereka adalah produsen minuman keras asal Kanada, keluarga Bronfman yang memproduksi minuman keras merek Seagrams.
Pada tahun 1931 Al Capone, dan tahun 1936 Lucky Luciano masuk penjara, sementara Lansky dan Bronfman justru semakin berkibar. Tidak hanya menguasai bisnis minuman keras, Lansky terus mengembangkan bisnis judi, prostitusi dan perhotelan hingga ke Kuba dan Inggris. Pada tahun 1970, ketika pemerintah Amerika mengintensifkan upaya penumpasan kejahatan terorganisir, Lansky melarikan diri ke Israel. Empat tahun kemudian, dengan pengadilan yang telah diatur, Lansky bebas dari tuduhan penggelapan pajak. Ia meninggal dengan tenang sebagai orang kaya yang merdeka pada tahun 1983. Salah satu legasinya adalah kota judi Las Vegas yang didirikannya bersama Siegel di tengah padang tandus yang terpencil.
Keluarga Bronfman jauh lebih beruntung lagi. Bersih dari tuntutan hukum, keluarga ini menjadi salah satu keluarga terkaya di Amerika utara dengan menguasai berbagai sektor bisnis, dari produksi dan distribusi minuman keras, makanan dan minuman (termasuk Coca Cola Company), petrokimia, film dan rekaman hingga percetakan dan media massa.
Keluarga Bronfman juga dikenal sebagai donatur tetap partai-partai politik Amerika. Pada tahun 1981, Edgar Bronfman, putra tertua generasi kedua keluarga Bronfman, terpilih sebagai Presiden The World Jewish Congress, dengan legasi sukses memaksa pemerintah Rusia mengakui bahasa Hebrew sebagai bahasa resmi dan mengijinkan orang-orang yahudi bermigrasi ke Israel. Selain itu, Edgar juga sukses memaksa perbankan Swiss untuk memberi kompensasi miliaran dollar kepada keluarga orang-orang yahudi korban Perang Dunia II.
Itu adalah gambaran mafia yahudi masa lalu. Bagaimana dengan sekarang? Jawabnya, tidak jauh berbeda.
Seperti para pionirnya, Meyer Lansky dan Bronfman, mafia yahudi (Kosher Nostra) berasal dari Rusia dan Eropa Timur. Mereka datang ke Amerika dalam kondisi miskin. Namun dengan cepat mereka berhasil membangun bisnis hitam mereka dengan mengandalkan kekejaman dan ambisi mereka yang tiada duanya. Satu lagi, mereka memiliki �patron� yang sangat kuat, yaitu keluarga-keluarga bankir dan industrialis yahudi global yang melindungi mereka dari segala bentuk jeratan hukum. Berkat para patron itu pulalah para kriminal itu memiliki akses ke kekuasaan.
Kekuatan mereka mampu membuat �legenda� mafia Italia seperti Al Capone, hanya menjadi tukang pukul bagi mereka, yang setiap saat bisa dikorbankan kepada aparat penegak hukum. Sedang mereka sendiri, bahkan media-media massa pun tidak pernah memberitakan keberadaan mereka. Merekalah orang-orang di balik karier cemerlang Donald Trump. Maka, permusuhan Donald Trump dengan Hillary Clinton dan orang-orang yahudi �formal�, media massa, birokrat neokons, orang-orang The Feds hingga George Soros yang mengorganisir aksi-aksi penolakan atas kemenangan Trump, hanyalah permainan belaka untuk mengelabuhi publik.
Jika Anda seorang anggota interpol yang berwawasan tinggi, maka Anda akan menemukan bahwa jaringan internasional pengedar narkoba, prostitusi, human/organ trafficking, senjata illegal, pedhopilia, judi dan hiburan, pornografi dan pornoaksi, dipenuhi oleh orang-orang yahudi dan beberapa kelompok etnis lainnya bekerja sebagai kaki-tangannya.
Sebagai gambaran, selama masa kejayaan mafioso Amerika yang didorong oleh UU larangan minuman keras (Prohibition Act tahun 1919 sampai 1933), muncul kelompok mafia yahudi yang mendominasi peredaran gelap minuman keras di Amerika dengan dukungan mafia Italia sebagai kaki-tangannya. Mereka dipimpin oleh Meyer Lansky dan Bugsy Siegel yang dibantu oleh mafia Italia Lucky Luciano dan Al Capone. Mitra terbesar mereka adalah produsen minuman keras asal Kanada, keluarga Bronfman yang memproduksi minuman keras merek Seagrams.
Pada tahun 1931 Al Capone, dan tahun 1936 Lucky Luciano masuk penjara, sementara Lansky dan Bronfman justru semakin berkibar. Tidak hanya menguasai bisnis minuman keras, Lansky terus mengembangkan bisnis judi, prostitusi dan perhotelan hingga ke Kuba dan Inggris. Pada tahun 1970, ketika pemerintah Amerika mengintensifkan upaya penumpasan kejahatan terorganisir, Lansky melarikan diri ke Israel. Empat tahun kemudian, dengan pengadilan yang telah diatur, Lansky bebas dari tuduhan penggelapan pajak. Ia meninggal dengan tenang sebagai orang kaya yang merdeka pada tahun 1983. Salah satu legasinya adalah kota judi Las Vegas yang didirikannya bersama Siegel di tengah padang tandus yang terpencil.
Keluarga Bronfman jauh lebih beruntung lagi. Bersih dari tuntutan hukum, keluarga ini menjadi salah satu keluarga terkaya di Amerika utara dengan menguasai berbagai sektor bisnis, dari produksi dan distribusi minuman keras, makanan dan minuman (termasuk Coca Cola Company), petrokimia, film dan rekaman hingga percetakan dan media massa.
Keluarga Bronfman juga dikenal sebagai donatur tetap partai-partai politik Amerika. Pada tahun 1981, Edgar Bronfman, putra tertua generasi kedua keluarga Bronfman, terpilih sebagai Presiden The World Jewish Congress, dengan legasi sukses memaksa pemerintah Rusia mengakui bahasa Hebrew sebagai bahasa resmi dan mengijinkan orang-orang yahudi bermigrasi ke Israel. Selain itu, Edgar juga sukses memaksa perbankan Swiss untuk memberi kompensasi miliaran dollar kepada keluarga orang-orang yahudi korban Perang Dunia II.
Itu adalah gambaran mafia yahudi masa lalu. Bagaimana dengan sekarang? Jawabnya, tidak jauh berbeda.
Seperti para pionirnya, Meyer Lansky dan Bronfman, mafia yahudi (Kosher Nostra) berasal dari Rusia dan Eropa Timur. Mereka datang ke Amerika dalam kondisi miskin. Namun dengan cepat mereka berhasil membangun bisnis hitam mereka dengan mengandalkan kekejaman dan ambisi mereka yang tiada duanya. Satu lagi, mereka memiliki �patron� yang sangat kuat, yaitu keluarga-keluarga bankir dan industrialis yahudi global yang melindungi mereka dari segala bentuk jeratan hukum. Berkat para patron itu pulalah para kriminal itu memiliki akses ke kekuasaan.
Kekuatan mereka mampu membuat �legenda� mafia Italia seperti Al Capone, hanya menjadi tukang pukul bagi mereka, yang setiap saat bisa dikorbankan kepada aparat penegak hukum. Sedang mereka sendiri, bahkan media-media massa pun tidak pernah memberitakan keberadaan mereka. Merekalah orang-orang di balik karier cemerlang Donald Trump. Maka, permusuhan Donald Trump dengan Hillary Clinton dan orang-orang yahudi �formal�, media massa, birokrat neokons, orang-orang The Feds hingga George Soros yang mengorganisir aksi-aksi penolakan atas kemenangan Trump, hanyalah permainan belaka untuk mengelabuhi publik.
Jumat, 09 Desember 2016
China Bersiap Uji Tembak Rudal Penghancur Satelit Ruang Angkasa
China bersiap-siap untuk menguji tembak senjata perang-asimetris baru yang kuat. Senjata canggih itu adalah sebuah rudal yang dirancang untuk menghancurkan satelit di ruang angkasa.
Para pejabat Pentagon seperti dilaporkan Washington Free Beacon, Sabtu (10/12/2016), sudah mendeteksi persiapan yang dilakukan China untuk menguji tembak rudal anti-satelit Dong Neng-3 atau DN-3 di fasilitas militer di Cina Tengah.
Beijing sendiri telah mengumumkan penutupan wilayah udara di sepanjang jalur penerbangan yang diduga jadi lokasi uji tembak rudal DN-3 pada tanggal 7 Desember dan 8 Desember. Pengumuman penutupan wilayah udara oleh China itu menjadi pelengkap petunjuk bagi badan-badan intelijen AS yang memantau rencana manuver Beijing.
Menurut penulis Asia Affair, Henri Kenhman, uji tembak rudal canggih DN-3 dapat terjadi di situs peluncuran satelit Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Jiuquan di Mongolia. Lokasi lain yang jadi potensi uji tembak rudal itu adalah situs peluncuran Korla di wilayah Xinjiang barat.
China sebelumnya menguji tembak rudal anti-satelit di kompleks Korla, pada Oktober 2015. China telah menjalankan program rudal anti-satelit dengan kedok program sistem rudal pertahanan sejak tahun 2007.
Amerika Serikat (AS), Jepang, Australia dan negara-negara lain kompak mengecam manuver berbahaya China pada saat itu. �Kami prihatin tentang dampak puing-puing di ruang (angkasa) dan kami menyatakan kekhawatiran,� kata seorang juru bicara pemerintah Inggris kepada Telegraph pada saat itu.

Frank Rose, asisten Menteri Luar Negeri AS untuk kontrol senjata pernah menuding Beijing terlibat dalam pengujian rudal anti-satelit klandestin pada tahun 2014.
�Meskipun klaim China bahwa ini bukan tes ASAT (tes rudal anti-satelit), izinkan saya meyakinkan Anda, AS memiliki keyakinan yang tinggi dalam penilaian, bahwa kegiatan itu memang tes ASAT. Perkembangan lanjutan dan pengujian sistem ASAT merusak, baik mendestabilisasi maupun mengancam keamanan jangka panjang dan kesinambungan lingkungan luar angkasa,� katanya.
Pentagon telah menyusun laporan tentang kegiatan militer China.�PLA memperoleh berbagai teknologi untuk meningkatkan kemampuan counterspace China. Selain pengembangan senjata energi dan jammers satelit, Cina juga mengembangkan kemampuan anti-satelit dan mungkin telah membuat kemajuan pada sistem rudal anti-satelit, dan itu diuji pada bulan Juli 2014,� demikian laporan Pentagon.
Pemerintah maupun militer China belum mengkonfirmasi laporan tentang persiapan uji tembak rudal anti-satelit DN-3.
Para pejabat Pentagon seperti dilaporkan Washington Free Beacon, Sabtu (10/12/2016), sudah mendeteksi persiapan yang dilakukan China untuk menguji tembak rudal anti-satelit Dong Neng-3 atau DN-3 di fasilitas militer di Cina Tengah.
Beijing sendiri telah mengumumkan penutupan wilayah udara di sepanjang jalur penerbangan yang diduga jadi lokasi uji tembak rudal DN-3 pada tanggal 7 Desember dan 8 Desember. Pengumuman penutupan wilayah udara oleh China itu menjadi pelengkap petunjuk bagi badan-badan intelijen AS yang memantau rencana manuver Beijing.
Menurut penulis Asia Affair, Henri Kenhman, uji tembak rudal canggih DN-3 dapat terjadi di situs peluncuran satelit Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Jiuquan di Mongolia. Lokasi lain yang jadi potensi uji tembak rudal itu adalah situs peluncuran Korla di wilayah Xinjiang barat.
China sebelumnya menguji tembak rudal anti-satelit di kompleks Korla, pada Oktober 2015. China telah menjalankan program rudal anti-satelit dengan kedok program sistem rudal pertahanan sejak tahun 2007.
Amerika Serikat (AS), Jepang, Australia dan negara-negara lain kompak mengecam manuver berbahaya China pada saat itu. �Kami prihatin tentang dampak puing-puing di ruang (angkasa) dan kami menyatakan kekhawatiran,� kata seorang juru bicara pemerintah Inggris kepada Telegraph pada saat itu.

Frank Rose, asisten Menteri Luar Negeri AS untuk kontrol senjata pernah menuding Beijing terlibat dalam pengujian rudal anti-satelit klandestin pada tahun 2014.
�Meskipun klaim China bahwa ini bukan tes ASAT (tes rudal anti-satelit), izinkan saya meyakinkan Anda, AS memiliki keyakinan yang tinggi dalam penilaian, bahwa kegiatan itu memang tes ASAT. Perkembangan lanjutan dan pengujian sistem ASAT merusak, baik mendestabilisasi maupun mengancam keamanan jangka panjang dan kesinambungan lingkungan luar angkasa,� katanya.
Pentagon telah menyusun laporan tentang kegiatan militer China.�PLA memperoleh berbagai teknologi untuk meningkatkan kemampuan counterspace China. Selain pengembangan senjata energi dan jammers satelit, Cina juga mengembangkan kemampuan anti-satelit dan mungkin telah membuat kemajuan pada sistem rudal anti-satelit, dan itu diuji pada bulan Juli 2014,� demikian laporan Pentagon.
Pemerintah maupun militer China belum mengkonfirmasi laporan tentang persiapan uji tembak rudal anti-satelit DN-3.
AS Isyaratkan Pengerahan Banyak Kapal Perang ke Laut Hitam
Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan untuk mengerahkan banyak kapal perang guna patroli ke Laut Hitam. Kemungkinan pengerahan kapal-kapal perang itu diungkap perwira senior Angkatan Laut AS Wakil Laksamana James G Foggo III.
AS telah mengirimkan serangkaian kapal perang ke Laut Hitam sejak krisis Ukraina pecah pada tahun 2014 atau setelah NATO menolak untuk mengakui bergabungnya Crimea ke Rusia. Langkah AS itu juga sebagai respons atas kehadiran militer Rusia di semenanjung Crimea.
�Itu tergantung pada apakah tantangan di wilayah tersebut menjadi lebih atau kurang mendesak,� kata Foggo kepada Sputnik pada Rabu, di sela-sela acara �Defense Forum 2016� yang diselenggarakan oleh US Naval Institute di Washington. "Jelas, ketika hal-hal menjadi lebih intens, Anda melihat kehadiran kapal (perang) tambahan,� lanjut Foggo.
AS terikat Konvensi Montreux 1936, yang menetapkan batas waktu kehadiran kapal-kapal perangnya di Laut Hitam tak lebih dari 21 hari. Sedangkan NATO menghendaki pengerahan kapal perang lebih banyak di kawasan itu meski Rumania dan Bulgaria menolak ide NATO tersebut.
�Kami mungkin memiliki sebuah kapal perang Angkatan Laut AS di sana, di bawah bendera AS, (untuk) operasi bilateral atau multilateral, NATO berada di sana beroperasi sekitar sepertiga tahun, dan Angkatan Laut Federasi Rusia menempatkan lebih banyak aset di sana dan hal-hal membuat lebih ramai,� ujar Foggo, yang dilansir Kamis (8/12/2016).
Foggo telah menjadi Direktur Staf Angkatan Laut AS bulan lalu setelah sebelumnya menjabat sebagai Komandan Armada Keenam AS dan wakil komandan Angkatan Laut AS di Eropa. Dia pernah memerintah satuan tugas maritim NATO selama 2011 saat intervensi di Libya.
Selama presentasi di�Defense Forum 2016� Foggo mengatakan tantangan yang dihadapi Angkatan Laut AS saat ini adalah, Rusia, kelompok radikal dan gelombang pengungsi. �Kita harus tetap waspada,� katanya.
Menurutnya, Angkatan Laut Rusia memiliki beberapa sistem senjata yang sangat efektif. �Mereka di luar sana dan mereka cukup bagus,� ujarnya.
AS telah mengirimkan serangkaian kapal perang ke Laut Hitam sejak krisis Ukraina pecah pada tahun 2014 atau setelah NATO menolak untuk mengakui bergabungnya Crimea ke Rusia. Langkah AS itu juga sebagai respons atas kehadiran militer Rusia di semenanjung Crimea.
�Itu tergantung pada apakah tantangan di wilayah tersebut menjadi lebih atau kurang mendesak,� kata Foggo kepada Sputnik pada Rabu, di sela-sela acara �Defense Forum 2016� yang diselenggarakan oleh US Naval Institute di Washington. "Jelas, ketika hal-hal menjadi lebih intens, Anda melihat kehadiran kapal (perang) tambahan,� lanjut Foggo.
AS terikat Konvensi Montreux 1936, yang menetapkan batas waktu kehadiran kapal-kapal perangnya di Laut Hitam tak lebih dari 21 hari. Sedangkan NATO menghendaki pengerahan kapal perang lebih banyak di kawasan itu meski Rumania dan Bulgaria menolak ide NATO tersebut.
�Kami mungkin memiliki sebuah kapal perang Angkatan Laut AS di sana, di bawah bendera AS, (untuk) operasi bilateral atau multilateral, NATO berada di sana beroperasi sekitar sepertiga tahun, dan Angkatan Laut Federasi Rusia menempatkan lebih banyak aset di sana dan hal-hal membuat lebih ramai,� ujar Foggo, yang dilansir Kamis (8/12/2016).
Foggo telah menjadi Direktur Staf Angkatan Laut AS bulan lalu setelah sebelumnya menjabat sebagai Komandan Armada Keenam AS dan wakil komandan Angkatan Laut AS di Eropa. Dia pernah memerintah satuan tugas maritim NATO selama 2011 saat intervensi di Libya.
Selama presentasi di�Defense Forum 2016� Foggo mengatakan tantangan yang dihadapi Angkatan Laut AS saat ini adalah, Rusia, kelompok radikal dan gelombang pengungsi. �Kita harus tetap waspada,� katanya.
Menurutnya, Angkatan Laut Rusia memiliki beberapa sistem senjata yang sangat efektif. �Mereka di luar sana dan mereka cukup bagus,� ujarnya.
Setelah AS, Rusia Dituding Ingin Kacaukan Jerman
Badan intelijen Jerman menyebut Rusia mencoba untuk mengacaukan situasi di negara itu menjelang pemilihan umum. Rusia melakukan hal itu melalui propaganda dan serangan cyber.
"Ada bukti yang berkembang dari upaya mempengaruhi pemilihan umum federal tahun depan," kata kepala intelijen Jerman Hans-Georg Maassen, mengutip "semakin agresif spionase cyber" terhadap entitas politik di Jerman.
Maassen mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya penggunaan media sosial oleh pemilik suara yang membuat mereka lebih rentan terhadap disinformasi. "Kami khawatir bahwa ruang propaganda sedang dibuat di sana," katanya sembari menambahkan bahwa pembentukan opini secara otomatis dengan bot dapat digunakan untuk menyebarkan berita palsu seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Kamis (8/12/2016).
Maassen juga mengatakan bahwa politisi Jerman telah menajdi target serangan hacker baru-baru ini. Menurutnya bisa saja hal itu adalah upaya untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk mendiskreditkan mereka.
"Kami mengharapkan peningkatan lebih lanjut dalam menangani serangan cyber untuk jangka panjang guna kepentingan pemilu," tukasnya.
Jerman belum menetapkan tanggal untuk pemilihan nasional pada tahun 2017, namun diharapkan berada di September.
Rusia sebelumnya disalahkan atas peretasan dan kebocoran email milik Komite Nasional Partai Demokrat jelang pemilu presiden Amerika Serikat (AS). Tapi Moskow telah membantah keras terlibat dalam mendalangi serangan cyber di negara asing dan membalas dengan tuduhan sendiri terhadap Barat.
"Ada bukti yang berkembang dari upaya mempengaruhi pemilihan umum federal tahun depan," kata kepala intelijen Jerman Hans-Georg Maassen, mengutip "semakin agresif spionase cyber" terhadap entitas politik di Jerman.
Maassen mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya penggunaan media sosial oleh pemilik suara yang membuat mereka lebih rentan terhadap disinformasi. "Kami khawatir bahwa ruang propaganda sedang dibuat di sana," katanya sembari menambahkan bahwa pembentukan opini secara otomatis dengan bot dapat digunakan untuk menyebarkan berita palsu seperti dikutip dari Belfast Telegraph, Kamis (8/12/2016).
Maassen juga mengatakan bahwa politisi Jerman telah menajdi target serangan hacker baru-baru ini. Menurutnya bisa saja hal itu adalah upaya untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk mendiskreditkan mereka.
"Kami mengharapkan peningkatan lebih lanjut dalam menangani serangan cyber untuk jangka panjang guna kepentingan pemilu," tukasnya.
Jerman belum menetapkan tanggal untuk pemilihan nasional pada tahun 2017, namun diharapkan berada di September.
Rusia sebelumnya disalahkan atas peretasan dan kebocoran email milik Komite Nasional Partai Demokrat jelang pemilu presiden Amerika Serikat (AS). Tapi Moskow telah membantah keras terlibat dalam mendalangi serangan cyber di negara asing dan membalas dengan tuduhan sendiri terhadap Barat.
China Harus Tambah Senjata Nuklir
Media Beijing, Global Times, yang dikenal sebagai corong pemerintah menyerukan China untuk menambah senjata nuklir lebih banyak untuk menghadapi Donald Trump, Presiden terpilih Amerika Serikat (AS). Seruan muncul dalam editorial media tersebut yang terbit pada hari Kamis.
Editorial media China itu semakin mengobarkan perseteruan Beijing dengan Washington. Seruan menambah senjata nuklir muncul setelah Trump mengecam China via Twitter terkait beberapa kebijakan luar negeri, termasuk soal militerisasi di Laut China Selatan.
�China harus secara signifikan meningkatkan pengeluaran militer dan membangun senjata nuklir lebih (banyak) sebagai respons terhadap Presiden terpilih AS Donald Trump,� bunyi editorial Global Times.
�China harus membangun lebih banyak senjata nuklir strategis dan mempercepat penyebaran rudal balistik antar-benua, DF-41, untuk melindungi kepentingannya, Trump harus mencobanya karena menyudutkan negara dengan cara yang tidak dapat diterima,� lanjut editorial itu, yang dikutip Jumat (9/12/2016).
�Pengeluaran militer China pada 2017 harus ditambah secara signifikan,� imbuh editorial surat kabar Beijng yang terbit dalam bahasa Inggris dan China tersebut.
Global Times sejatinya bukan bagian dari media resmi negara, namun memiliki hubungan dekat dengan Partai Komunis, partai berkuasa di China. Meski kerap digunakan para pejabat China sebagai �palu retorika�, tetapi media itu juga kerap diperingatkan karena sering menggunakan bahasa bombastis.
Perseteruan China dan Donald Trump terbaru terjadi setelah China mempersoalkan pembicaraan telepon Trump dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Dalam percakapan telepon tersebut, Tsai mengucapkan selamat kepada Trump yang terpilih sebagai presiden AS.
Beijing yang menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang �nakal� memperingatkan Trump soal kebijakan �one-China�, di mana AS hanya mengakui China sebagai pemerintah yang berkuasa atas wilayah Taiwan.
Dalam lanjutan editorialnya, Global Times menulis, �Kita (China) harus lebih siap secara militer mengenai pertanyaan Taiwan untuk memastikan bahwa mereka yang menyarankan kemerdekaan Taiwan akan dihukum, dan mengambil tindakan pencegahan dalam kasus provokasi AS di Laut China Selatan.�
Editorial media China itu semakin mengobarkan perseteruan Beijing dengan Washington. Seruan menambah senjata nuklir muncul setelah Trump mengecam China via Twitter terkait beberapa kebijakan luar negeri, termasuk soal militerisasi di Laut China Selatan.
�China harus secara signifikan meningkatkan pengeluaran militer dan membangun senjata nuklir lebih (banyak) sebagai respons terhadap Presiden terpilih AS Donald Trump,� bunyi editorial Global Times.
�China harus membangun lebih banyak senjata nuklir strategis dan mempercepat penyebaran rudal balistik antar-benua, DF-41, untuk melindungi kepentingannya, Trump harus mencobanya karena menyudutkan negara dengan cara yang tidak dapat diterima,� lanjut editorial itu, yang dikutip Jumat (9/12/2016).
�Pengeluaran militer China pada 2017 harus ditambah secara signifikan,� imbuh editorial surat kabar Beijng yang terbit dalam bahasa Inggris dan China tersebut.
Global Times sejatinya bukan bagian dari media resmi negara, namun memiliki hubungan dekat dengan Partai Komunis, partai berkuasa di China. Meski kerap digunakan para pejabat China sebagai �palu retorika�, tetapi media itu juga kerap diperingatkan karena sering menggunakan bahasa bombastis.
Perseteruan China dan Donald Trump terbaru terjadi setelah China mempersoalkan pembicaraan telepon Trump dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Dalam percakapan telepon tersebut, Tsai mengucapkan selamat kepada Trump yang terpilih sebagai presiden AS.
Beijing yang menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang �nakal� memperingatkan Trump soal kebijakan �one-China�, di mana AS hanya mengakui China sebagai pemerintah yang berkuasa atas wilayah Taiwan.
Dalam lanjutan editorialnya, Global Times menulis, �Kita (China) harus lebih siap secara militer mengenai pertanyaan Taiwan untuk memastikan bahwa mereka yang menyarankan kemerdekaan Taiwan akan dihukum, dan mengambil tindakan pencegahan dalam kasus provokasi AS di Laut China Selatan.�
Drone Selam Rusia Bikin Intelijen AS Ketakutan
Uji coba drone sealam revolusioner Rusia itu diam-diam dipantau badan-badan intelijen AS. Pentagon memberi nama kode �Kanyon� untuk kendaraan bawah air Rusia yang diuji coba.
Para pejabat Pentagon mengkonfirmasi bahwa Rusia telah melakukan uji coba drone selam revolusioner yang jadi ancaman strategis bagi Amerika Serikat (AS). Drone selam itu disebut Pentagon mampu membawa bom termonuklir dahsyat.
Menurut seorang pejabat Pentagon yang mengetahui perihal tes tersebut, drone revolusioner Rusia diluncurkan dari kapal selam Sarov-class pada 27 November 2016. Namun, Pentagon tidak merinci soal lokasi tes dan hasilnya.
Juru bicara Pentagon Kapten Jeff Davis menolak berkomentar banyak soal manuver berbahaya Rusia ini. �Kami terus memantau perkembangan militer Rusia di bawah laut, tapi kami tidak akan berkomentar secara khusus tentang mereka,� kata Davis, yang dilansir Jumat (9/12/2016).
Pengembangan drone selam baru Rusia pertama kali diungkap oleh Washington Free Beacon pada bulan September 2015 dan kemudian dikonfirmasi oleh militer Rusia dua bulan kemudian. Para pejabat Rusia mengatakan pengungkapan program rahasia itu sebagai tindakan kekeliruan.
Rusia menamai program pengembangan kendaraan tanpa awak itu sebagai �Ocean Multipurpose System �Status-6'�. Pengembangnya adalah biro desain TsKB MT Rubin Rusia, entitas industri pertahanan yang membangun semua kapal selam Rusia.
Badan-badan intelijen AS memperkirakan Kanyon Rusia akan dilengkapi dengan hulu ledak nuklir berskala multi-megaton. Satu megaton bom tersebut setara dengan satu juta ton TNT. Sekadar diketahui, bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima di masa lalu berkekuatan 16 kiloton.
Status-6 Rusia juga diduga mampu melakukan perjalanan bawah laut untuk jarak ke 6.200 mil. Drone selam Rusia ini, menurut laporan Washington Free Beacon dapat menenggelamkan diri hingga kedalaman 3.280 kaki pada kecepatan hingga 56 knot.
Para pejabat Pentagon mengkonfirmasi bahwa Rusia telah melakukan uji coba drone selam revolusioner yang jadi ancaman strategis bagi Amerika Serikat (AS). Drone selam itu disebut Pentagon mampu membawa bom termonuklir dahsyat.
Menurut seorang pejabat Pentagon yang mengetahui perihal tes tersebut, drone revolusioner Rusia diluncurkan dari kapal selam Sarov-class pada 27 November 2016. Namun, Pentagon tidak merinci soal lokasi tes dan hasilnya.
Juru bicara Pentagon Kapten Jeff Davis menolak berkomentar banyak soal manuver berbahaya Rusia ini. �Kami terus memantau perkembangan militer Rusia di bawah laut, tapi kami tidak akan berkomentar secara khusus tentang mereka,� kata Davis, yang dilansir Jumat (9/12/2016).
Pengembangan drone selam baru Rusia pertama kali diungkap oleh Washington Free Beacon pada bulan September 2015 dan kemudian dikonfirmasi oleh militer Rusia dua bulan kemudian. Para pejabat Rusia mengatakan pengungkapan program rahasia itu sebagai tindakan kekeliruan.
Rusia menamai program pengembangan kendaraan tanpa awak itu sebagai �Ocean Multipurpose System �Status-6'�. Pengembangnya adalah biro desain TsKB MT Rubin Rusia, entitas industri pertahanan yang membangun semua kapal selam Rusia.
Badan-badan intelijen AS memperkirakan Kanyon Rusia akan dilengkapi dengan hulu ledak nuklir berskala multi-megaton. Satu megaton bom tersebut setara dengan satu juta ton TNT. Sekadar diketahui, bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima di masa lalu berkekuatan 16 kiloton.
Status-6 Rusia juga diduga mampu melakukan perjalanan bawah laut untuk jarak ke 6.200 mil. Drone selam Rusia ini, menurut laporan Washington Free Beacon dapat menenggelamkan diri hingga kedalaman 3.280 kaki pada kecepatan hingga 56 knot.
Kamis, 01 Desember 2016
Foto DEMO 212 di Jakarta
Zona Pertahanan Udara Akan Diterapkan di Laut China Selatan
Pemerintah China akan menetapkan zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) di wilayah perairan sengketa menyusul serangkaian langkah yang diambil untuk mengawasi dan memeriksa pergerakan kapal maupun pesawat asing.
Lembaga Nasional untuk Kajian Laut China Selatan melaporkan, langkah itu diambil mengingat Amerika Serikat menggelar lebih dari 700 kali patroli pengawasan kawasan yang menjadi rebutan beberapa negara tersebut sepanjang tahun lalu.
"Beijing bisa saja membatalkan ADIZ. Tapi, hanya jika Washington menghentikan kegiatannya," bunyi keterangan resmi lembaga tersebut, seperti dikutip situs Voa, Kamis, 1 Desember 2016. Tak hanya itu, Beijing berusaha mempertegas niatnya untuk mempertahankan klaim maritimnya di Laut China Selatan.
Meskipun, Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, menolak klaim tersebut pada Juli tahun ini dan menyebut China tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Tak pelak, langkah sepihak China ini akan membuat marah negara-negara lain.
Pemerintah AS begitu mengandalkan negara tetangga China sebagai sekutu dan menyebut sebagian besar kawasan Laut China Selatan sebagai perairan internasional. Namun, sikap AS ini dituding China sebagai usaha untuk membatasi perluasan wilayah dan pengaruh.
Seperti diketahui, China mengklaim 95 persen wilayah sengketa ini sebagai miliknya dan berusaha memiliterisasi pulau-pulau kecil di kawasan tersebut.
Tak ayal, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, Vietnam, dan Filipina yang juga memiliki klaim di kawasan itu, menjadi marah. Laut China Selatan terbentang dari Taiwan hingga Singapura dan memiliki luas 3,5 juta kilometer persegi.
Lembaga Nasional untuk Kajian Laut China Selatan melaporkan, langkah itu diambil mengingat Amerika Serikat menggelar lebih dari 700 kali patroli pengawasan kawasan yang menjadi rebutan beberapa negara tersebut sepanjang tahun lalu.
"Beijing bisa saja membatalkan ADIZ. Tapi, hanya jika Washington menghentikan kegiatannya," bunyi keterangan resmi lembaga tersebut, seperti dikutip situs Voa, Kamis, 1 Desember 2016. Tak hanya itu, Beijing berusaha mempertegas niatnya untuk mempertahankan klaim maritimnya di Laut China Selatan.
Meskipun, Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, menolak klaim tersebut pada Juli tahun ini dan menyebut China tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Tak pelak, langkah sepihak China ini akan membuat marah negara-negara lain.
Pemerintah AS begitu mengandalkan negara tetangga China sebagai sekutu dan menyebut sebagian besar kawasan Laut China Selatan sebagai perairan internasional. Namun, sikap AS ini dituding China sebagai usaha untuk membatasi perluasan wilayah dan pengaruh.
Seperti diketahui, China mengklaim 95 persen wilayah sengketa ini sebagai miliknya dan berusaha memiliterisasi pulau-pulau kecil di kawasan tersebut.
Tak ayal, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, Vietnam, dan Filipina yang juga memiliki klaim di kawasan itu, menjadi marah. Laut China Selatan terbentang dari Taiwan hingga Singapura dan memiliki luas 3,5 juta kilometer persegi.
Langganan:
Komentar (Atom)































